Inti Berita:
• SA, siswa SDI Luqman Al Hakim yang sebelumnya dirawat setelah mengalami muntah, diare, dan dehidrasi, kini sudah diperbolehkan pulang setelah tiga hari menjalani perawatan di RSUD dr. Soedomo Trenggalek.
• SA masih dijadwalkan kontrol pada Selasa (18/8/2026).
• Sementara kaitan keluhan kesehatannya dengan konsumsi MBG masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
• Satgas MBG masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan penerima manfaat.
SUARA TRENGGALEK – Setelah menjalani perawatan selama 3 hari di RSUD dr. Soedomo Trenggalek, siswa SDI Luqman Al Hakim berinisial SA (11) tahun akhirnya diperbolehkan pulang, Jumat (14/8/2026).
Siswa kelas 5 tersebut sebelumnya mengalami muntah, diare, dan dehidrasi, sejak Rabu (12/8/2026) hingga Jumat (14/8/2026) karena diduga terdampak keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
“SA keluar dari rumah sakit sekitar pukul 10.30 WIB setelah dipastikan kondisinya membaik,” tutur Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni.
Selanjutnya disampaikan Saeroni bahwa SA masih dijadwalkan menjalani kontrol kembali pada Selasa (18/8/2026) untuk memastikan kondisi kesehatannya.
“Hari ini sudah KRS, sudah pulang dan sudah mendapatkan perawatan selama 3 hari, mulai tanggal 12-14 Agustus 2026,” kata Saeroni, Jumat (14/8/2026).
Menurut Saeroni, kondisi SA akan kembali dievaluasi saat kontrol. Jika kondisinya sudah stabil, pasien tidak perlu menjalani pemeriksaan lanjutan.
“Nanti dianjurkan kontrol lagi di tanggal 18 Agustus 2026. Setelah kontrol akan kami lihat kondisinya, apabila kondisinya stabil, sudah baik, sudah tidak perlu kontrol lagi,” ujarnya.
Sebelumnya Alami Muntah dan Diare Berulang
Sebelumnya, SA merupakan salah satu penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah.
Pada Selasa (11/8/2026), SA menyantap menu MBG berupa nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, bayam dan jagung, serta buah semangka.
Sehari kemudian, Rabu (12/8/2026), muncul keluhan gangguan pencernaan pada sejumlah penerima manfaat MBG yang berasal dari SPPG tersebut.
Keluhan dilaporkan terjadi di sejumlah penerima manfaat, termasuk SMPN 1 Trenggalek, SDI Luqman Al Hakim, dan Posyandu Kelurahan Tamanan.
Berdasarkan pendataan Satgas MBG Trenggalek hingga Kamis (13/8/2026), tercatat 549 penerima manfaat mengalami keluhan.
Rinciannya, 493 orang di SMPN 1 Trenggalek, 30 orang di SDI Luqman Al Hakim, serta 26 penerima manfaat Posyandu Kelurahan Tamanan.
Dari 30 penerima manfaat yang mengalami keluhan di SDI Luqman Al Hakim, sebanyak 20 merupakan siswa dan 10 lainnya tenaga pendidik.
SA kemudian dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Soedomo pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Pasien selanjutnya dipindahkan ke ruang perawatan Dahlia sekitar pukul 23.00 WIB karena mengalami muntah dan diare berulang hingga menyebabkan dehidrasi.
Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soedomo Trenggalek, Riza Maulina, sebelumnya mengatakan SA mengalami diare lebih dari 10 kali dan muntah lebih dari tujuh kali.
Kondisi tersebut membuat tubuhnya lemas sehingga membutuhkan infus untuk rehidrasi.
Setelah mendapatkan perawatan, kondisi SA berangsur membaik. Keluhan muntah dan diare kemudian berhenti, meski sebelumnya masih terdapat mual dan nyeri ulu hati.
RSUD Masih Tunggu Pemeriksaan Penyebab
Saeroni mengatakan SA datang ke rumah sakit dengan keluhan diare. Namun, terkait penyebab gangguan kesehatan tersebut, termasuk dugaan kaitannya dengan konsumsi MBG, masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kalau dari kasus dia kan masuk dengan diare, diare penyebabnya karena radang, infeksi, ini diare sudah diatas dan pengobatan dan sekarang baik dan sudah pulang,” jelasnya.
Menurut Saeroni, rumah sakit berfokus memberikan penanganan medis kepada pasien yang membutuhkan perawatan.
“Jadi kami di rumah sakit intinya bagaimana pasien atau masyarakat yang sakit yang memerlukan perawatan, kami tentunya agar kami memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya nanti tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Sementara terkait dugaan keracunan, Saeroni menegaskan diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.
“Kalau masalah keracunan dan sebagainya harus ada pemeriksaan lebih lanjut,” kata Saeroni.
Sampel Diperiksa di Surabaya
Sebelumnya, Satgas MBG Trenggalek telah mengirimkan sampel makanan dan sampel dari penerima manfaat untuk diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga belum menetapkan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Saat ini, kasus masih dikategorikan sebagai peningkatan kasus gangguan pencernaan dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Sementara itu, SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah untuk sementara menghentikan layanan MBG sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.











