PERISTIWA

Sejarah Kejayaan Singkong di Trenggalek, dari “Kota Gaplek” hingga Potensi Bangkit Kembali

×

Sejarah Kejayaan Singkong di Trenggalek, dari “Kota Gaplek” hingga Potensi Bangkit Kembali

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Istimewa.
Inti Berita:
• Trenggalek dijuluki “Kota Gaplek” karena sejarah panjang singkong.
• Singkong jadi makanan pokok dan komoditas utama sejak masa kolonial.
• Puncak kejayaan terjadi pada 1960–1990-an dengan industri tapioka dan UMKM.
• Kejayaan meredup sejak 2000-an akibat harga rendah dan minim inovasi.
• Potensi bangkit masih besar lewat hilirisasi dan pengembangan agroindustri.

SUARA TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek di Jawa Timur dikenal luas dengan julukan “Kota Gaplek”.

Julukan ini tak lepas dari sejarah panjang singkong yang pernah menjadi tulang punggung pangan sekaligus perekonomian masyarakat setempat.

Dirujuk dari berbagai sumber, sejak diperkenalkan ke Indonesia pada abad ke-16 oleh bangsa Portugis, singkong perlahan menyebar ke Pulau Jawa.

Di Trenggalek, tanaman ini berkembang pesat karena kondisi geografis yang didominasi lahan kering dan pegunungan, sehingga kurang cocok untuk padi.

Catatan sejarah menyebutkan, pada tahun 1875-1876, seorang kontrolir Belanda, H.J. van Swieten, mencatat bahwa singkong banyak dibudidayakan di daerah kering seperti Trenggalek. Sejak saat itu, singkong menjadi sumber pangan alternatif yang penting bagi masyarakat.

Gaplek, yakni singkong yang dikeringkan, menjadi makanan pokok yang diolah menjadi tiwul sebagai pengganti nasi. Dari sinilah identitas “Kota Gaplek” mulai melekat kuat pada Trenggalek, terutama sejak masa pra-kemerdekaan hingga awal Orde Baru.

Memasuki era pasca-kemerdekaan, khususnya pada periode 1960-an hingga 1980-an, singkong mencapai masa kejayaannya. Tidak hanya untuk konsumsi lokal, komoditas ini mulai berkembang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Produksi singkong meluas di berbagai wilayah seperti Tugu, Suruh, Bendungan, Durenan, hingga Pogalan. Hasil olahannya berupa gaplek dan tepung tapioka diperdagangkan antar daerah, bahkan menjadi salah satu komoditas unggulan di Jawa Timur bersama Pacitan dan Ponorogo.

Pada era 1980-1990-an, industri pengolahan singkong semakin berkembang. Pabrik-pabrik kecil hingga menengah bermunculan, memproduksi tapioka untuk kebutuhan industri makanan, tekstil, hingga pakan ternak.

Selain itu, sektor UMKM juga ikut tumbuh dengan berbagai produk turunan seperti keripik singkong, alen-alen, kerupuk, hingga tepung mocaf.

Produk-produk ini tidak hanya dipasarkan secara lokal, tetapi juga dikirim ke kota besar seperti Surabaya, Malang, dan Jakarta.

Secara ekonomi, singkong memberikan dampak signifikan. Ribuan petani menggantungkan hidup dari komoditas ini, sementara industri pengolahan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Pada masa puncaknya, produksi singkong di Trenggalek mencapai puluhan ribu ton per tahun dengan luas lahan hingga belasan ribu hektare.

Namun, memasuki tahun 2000-an, kejayaan tersebut mulai meredup. Beberapa faktor penyebabnya antara lain persaingan dengan komoditas lain seperti padi dan jagung, harga jual yang rendah, minimnya inovasi, serta kurangnya investasi di sektor industri pengolahan.

Produksi sempat mengalami penurunan signifikan, terutama setelah tahun 2021, seiring melemahnya industri dan peralihan petani ke tanaman lain. Meski demikian, data terbaru menunjukkan bahwa potensi singkong di Trenggalek masih cukup besar.

Dengan luas lahan ribuan hektare dan produksi yang masih mencapai ratusan ribu ton, peluang pengembangan tetap terbuka. Upaya hilirisasi seperti pengolahan menjadi mocaf, bioetanol, hingga produk olahan bernilai tinggi menjadi kunci untuk menghidupkan kembali kejayaan singkong.

Pemerintah daerah bersama petani kini mulai mendorong pengembangan klaster agroindustri guna meningkatkan nilai tambah komoditas ini.
Sejarah singkong di Trenggalek tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi untuk masa depan.

Dengan inovasi dan pengelolaan yang tepat, singkong berpotensi kembali menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat.

Tag:
Penulis: RUDI YUNI Editor: JAOHAR