KESEHATAN

Ahli Gizi Trenggalek Sarankan Penyesuaian Waktu Distribusi MBG Selama Puasa Ramadan

×

Ahli Gizi Trenggalek Sarankan Penyesuaian Waktu Distribusi MBG Selama Puasa Ramadan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ketua PERSAGI Trenggalek saat menyampaikan saran pelaksanaan MBG selama puasa ramadhan.

SUARA TRENGGALEK – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Trenggalek menilai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan ramadan tidak cukup hanya dengan mengganti jenis menu makanan.

Penyesuaian sistem pengolahan makanan oleh dapur MBG yang disesuaikan, distribusi dan waktu pelayanan menjelang buka puasa dinilai jauh lebih krusial demi menjaga keamanan pangan.

Ketua DPC PERSAGI Trenggalek, Rio Ardi Virgianto menjelaskan bahwa aspek utama dalam pelaksanaan MBG tetap harus mengutamakan keamanan pangan.

Menurutnya, ada tiga faktor yang memengaruhi keamanan makanan, yakni suhu, waktu, dan kebersihan.

“Keamanan pangan itu dipengaruhi suhu, waktu, dan kebersihan. Dalam suhu sendiri ada yang disebut zona bahaya, yaitu 5 derajat Celsius sampai 60 derajat Celsius,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).

Pada rentang suhu tersebut, bakteri dapat berkembang biak dengan cepat. Ia menjelaskan, dalam kondisi zona bahaya, bakteri bisa berlipat ganda setiap sekitar 20 menit.

Merujuk rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), makanan matang yang berada pada rentang suhu 5–60 derajat Celsius dan tidak mendapat pemanasan atau pendinginan lanjutan sebaiknya dikonsumsi maksimal 2 jam setelah dimasak.

Rekomendasi Pergeseran Waktu Distribusi

Selama Ramadhan, konsumsi MBG ditujukan saat waktu berbuka puasa. Karena itu, Rio menyarankan agar waktu pemrosesan dan distribusi makanan ikut disesuaikan menjelang waktu berbuka puasa.

“Kalau biasanya distribusi pagi, sebaiknya digeser mendekati jadwal buka puasa,” jelasnya.

Namun, ia mengakui penerapan skema tersebut membutuhkan koordinasi intensif dengan sekolah, terutama jika pengambilan makanan dilakukan oleh siswa di lingkungan sekolah.

Jika pergeseran waktu distribusi MBG di Trenggalek sulit diterapkan, barulah alternatif penggantian menu menjadi pilihan.

Ia juga menyinggung wacana penggunaan menu kering sebagaimana pernah disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

“Menu kering itu alternatif. Tapi yang utama tetap pergeseran waktu pemrosesan dan distribusi,” tegasnya.

Menu MBG Kering Harus Tetap Penuhi Gizi

Meski menjadi opsi alternatif, menu kering tetap harus memenuhi kebutuhan gizi anak. Rio menekankan kecukupan protein dan energi tetap menjadi prioritas.

Protein dapat diperoleh dari bahan seperti abon ikan atau abon daging, sementara sumber energi bisa berasal dari roti atau gandum.

Namun, ia mengingatkan agar dapur MBG di Trenggalek lebih selektif memilih bahan.

“Beberapa bahan makanan kering sudah termasuk ultra proses, melalui tahapan berulang dan tambahan zat kimia. Itu juga kurang baik,” ujarnya.

Ia juga menyebut kurma sebagai salah satu pilihan yang baik selama Ramadan karena relatif tahan tanpa pendinginan dan tetap bernilai gizi.

Ketahanan Pangan dan Penyimpanan MBG

Terkait ketahanan makanan matang, Rio kembali menegaskan batas aman konsumsi pada suhu zona bahaya 5–60 derajat Celsius adalah maksimal dua jam.

Jika makanan disimpan pada suhu di atas 60 derajat Celsius, durasi ketahanan bisa lebih lama, sekitar tiga hingga empat jam.

Namun pada suhu ruang rata-rata sekitar 20 derajat Celsius, makanan non-kering sebaiknya tetap dikonsumsi dalam waktu dua jam setelah matang.

Menanggapi penggunaan wadah tertutup atau ompreng dalam distribusi MBG, ia menyebut hal tersebut tidak menjadi masalah selama mengikuti standar operasional yang tepat.

“Di MBG setahu saya tidak langsung dimasukkan ke ompreng lalu ditutup. Ada standar kapan setelah matang di-pack dan ditutup,” jelasnya.

PERSAGI Trenggalek berharap pelaksanaan MBG selama Ramadan tetap mengutamakan keamanan pangan dan kualitas gizi, sehingga tujuan program dalam mendukung kesehatan anak tetap tercapai meski dalam kondisi puasa.