SUARA TRENGGALEK – Sejumlah harga komoditas di Kabupaten Trenggalek mengalami kenaikan menjelang bulan puasa ramadhan 2026, Sabtu (14/2/2026).
Kenaikan paling signifikan terpantau pada cabai rawit dan ayam potong. Berdasarkan pantauan di Pasar Basah Trenggalek, Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek, lonjakan harga terjadi dalam lima hari terakhir.
Salah satu pedagang, Siti Fatimah mengatakan harga cabai rawit naik drastis hingga Rp 32 ribu per kilogram. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp 60 ribu per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 92 ribu per kilogram.
“Paling tinggi naiknya cabai rawit, biasanya Rp 60 ribu sekarang Rp 92 ribu. Naiknya signifikan selama lima hari,” ujar Siti.
Selain cabai rawit, harga telur juga mengalami kenaikan. Dari sebelumnya Rp 26 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 30 ribu per kilogram.
Meski harga naik, menurut Siti, daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan.
Hal ini dipicu tradisi kirim doa atau megengan menjelang Ramadan yang meningkatkan kebutuhan bahan pangan.
“Walaupun harganya naik, masyarakat tetap belanja banyak juga karena ada kirim doa atau megengan,” katanya.
Siti menambahkan, kenaikan harga menjelang Ramadan merupakan fenomena tahunan. Ia memperkirakan harga akan kembali normal pada pertengahan Ramadan.
Untuk komoditas lain, bawang putih masih stabil di angka Rp 32 ribu per kilogram. Sementara bawang merah naik dari Rp 36 ribu menjadi Rp 42 ribu per kilogram.
Ia memastikan stok bahan pokok, termasuk cabai rawit, dalam kondisi aman. Kenaikan juga terjadi pada harga ayam potong.
Pedagang ayam di Pasar Basah, Tugianti, menyebut harga ayam naik sekitar Rp 7 ribu per kilogram.
Jika sebelumnya ayam potong dijual Rp 34 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 42 ribu per kilogram.
“Rp 42 ribu itu campur, kalau mau yang dada atau paha saja beda lagi harganya,” ujar Tugianti.
Menurutnya, kenaikan harga terjadi sejak empat hingga lima hari terakhir. Meski harga tinggi, permintaan tetap ramai karena bertepatan dengan momentum megengan.
Tugianti menilai lonjakan harga dipicu tingginya permintaan. Ia menyebut kenaikan harga ayam menjelang Ramadan memang rutin terjadi setiap tahun, namun tahun ini lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
“Kalau biasanya naik ke Rp 36-37 per kilogram, naiknya sedikit. Tapi tahun ini banyak. Pembeli tetap mau saja karena butuh, jadi tetap ramai,” jelasnya.
Ia menambahkan, penurunan harga ayam sulit dipastikan karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari permintaan hingga harga pakan.
“Kapan turunnya kita tidak bisa memastikan, tergantung dari pabrik. Kalau dari kandang turun ya turun,” pungkasnya.











