SUARA TRENGGALEK – Kasus penyakit gagal ginjal di Kabupaten Trenggalek menunjukkan tren peningkatan.
Bahkan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedomo Trenggalek menemukan pasien gagal ginjal termuda berusia 15 tahun yang masih duduk di bangku SMP, diduga akibat kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek, Saeroni, mengatakan rata-rata setiap bulan terdapat sekitar 100 hingga 125 pasien gagal ginjal yang harus menjalani layanan cuci darah atau hemodialisa.
“Pasien gagal ginjal harus menjalani hemodialisa secara rutin, dua kali dalam seminggu,” kata Saeroni, Rabu (31/12/2025).
Saat ini, RSUD dr Soedomo Trenggalek memiliki 14 mesin hemodialisa. Sebanyak 11 mesin digunakan untuk pasien reguler, sementara tiga mesin lainnya disiapkan untuk kondisi darurat serta pasien dengan penyakit menular.
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan, pihak rumah sakit berencana menambah jumlah mesin hemodialisa pada tahun 2026.
“Tahun 2026 kami merencanakan penambahan mesin hemodialisa menjadi 31 unit agar pelayanan kepada pasien bisa lebih optimal,” ujarnya.
Saeroni menjelaskan, sebagian besar pasien gagal ginjal berada pada rentang usia 30 hingga 60 tahun. Sementara itu, jumlah pasien berusia di atas 60 tahun relatif lebih sedikit.
“Pasien paling muda yang kami temukan berusia 15 tahun, masih kelas 1 SMP,” ungkapnya.
Menurut Saeroni, kasus gagal ginjal pada usia anak tersebut diduga dipicu oleh pola konsumsi makanan cepat saji yang tidak terkontrol.
“Pasien termuda usia 15 tahun itu karena sering mengonsumsi makanan cepat saji,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat guna mencegah penyakit gagal ginjal. Upaya pencegahan tersebut antara lain dengan menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta menghindari kebiasaan tidak sehat.
“Agar terhindar dari gagal ginjal, masyarakat perlu rutin berolahraga, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, makan makanan bergizi, dan mampu mengelola stres,” pungkas Saeroni.











