SUARA TRENGGALEK – Kepala SPBU 5466304 Trenggalek, Kurniatri Baskoro Edi memberikan penjelasan terkait keluhan masyarakat yang viral di media sosial, dimana warga mengaku tidak mendapatkan layanan pembelian BBM jenis solar di SPBU dekat Terminal Bus Trenggalek.
Penjelasan itu disampaikan untuk meluruskan dugaan bahwa pihak SPBU yang berada di bawah naungan PT Jwalita Energi Trenggalek (JET) BUMD milik Pemkab Trenggalek menutup layanan untuk umum dan hanya melayani kepada kendaraan Bus Bagong.
Edi biasa disapa saat ditemui awak media menjelaskan bahwa SPBU yang berada di dekat terminal bus tersebut memang membatasi pelayanan solar ketika stok tersisa sangat sedikit.
Dalam kondisi tertentu, solar hanya diberikan untuk kendaraan pelayanan publik yang dianggap prioritas dan yang telah bermitra dengan SPBU tersebut.
“Untuk pelayanan umum di saat tinggal sedikit, kita sudah tidak melayani lagi untuk mobil-mobil umum. Yang bisa kita layani hanya ambulans, mobil sampah, damkar dan bus Bagong. Bus Bagong pun itu yang sudah memberikan deposit ke kita,” jelasnya.
Ia menerangkan, jika pihak SPBU wajib menyisakan sekitar 600 liter sebagai batas minimal operasional. Bila stok tersisa sekitar 1.000 liter, hanya 400 liter yang dapat diberikan kepada kendaraan prioritas.
“Kadang-kadang karena memang kurangnya pemahaman masyarakat, dianggap kami tidak melayani. Padahal sisa yang kita tinggal itu 1.000 liter dan harus menyisakan 600 liter. Jadi hanya ada seperempatnya untuk ambulans dan kendaraan layanan,” ujarnya.
Terkait soal kemitraan antara SPBU dengan Bus Bagong, Edi menyebutkan bahwa sistem yang digunakan adalah deposit yang disetor terlebih dahulu oleh perusahaan transportasi tersebut.
“Untuk bus Bagong biasanya nitip atau deposit dulu antara dua sampai tiga hari, sekitar Rp 25 juta sampai Rp 30 juta. Mereka ambil per hari sekitar 1.500 sampai 2.000 liter,” katanya.
Edi juga menjelaskan bahwa distribusi solar di SPBU tersebut memang bergantung pada kuota yang ditetapkan Pertamina. Setiap hari SPBU hanya mendapat jatah 8.000 liter, dengan pengiriman empat kali dalam sepekan.
“Kuotanya dari Pertamina. Kita per hari hanya dikasih 8.000 liter. Itu habisnya lima sampai enam jam. Sementara kapasitas kita sebenarnya bisa 18.000 liter per hari,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa SPBU terbuka untuk bermitra dengan pihak lain, namun tetap disesuaikan dengan kemampuan kuota yang tersedia.
“Selama kuota kami bisa meng-handle, kami tetap bisa melayani. Tapi karena keterbatasan kuota, kami tidak berani menjanjikan. Dulu bus Harapan Jaya pernah mau mitra, tapi kapasitasnya besar, sedangkan kuota kami kecil,” jelasnya.
Edi kembali menambahkan bahwa pembatasan layanan semata-mata dilakukan untuk menjaga ketersediaan solar bagi kendaraan prioritas dan layanan darurat serta yang telah bermitra.
Sebelumnya, keluhan ramai di media sosial terkait masyarakat yang tidak dilayani saat membeli bbm jenis solar, namun SPBU tersebutlah malah melayani pembelian kepada bus bagong.











