SUARA TRENGGALEK – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pasar Pon Trenggalek merasakan lonjakan penjualan selama Ramadan 2026.
Meningkatnya aktivitas masyarakat, terutama saat ngabuburit, berdampak langsung pada kenaikan omzet para pedagang kuliner.
Salah satu pelaku UMKM, Tara, mengaku usahanya mengalami peningkatan penjualan hingga 50 persen dibanding hari biasa.
“Kalau hari biasa paling 20 porsi sehari, tapi selama Ramadan bisa sampai 30 porsi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan tersebut dipicu tingginya mobilitas warga yang mencari makanan untuk berbuka puasa di kawasan Pelataran Pasar Pon.
Meski demikian, Tara belum bisa membandingkan kondisi tahun ini dengan Ramadan sebelumnya karena usahanya belum genap satu tahun beroperasi.
Ia berharap tren peningkatan penjualan ini dapat bertahan hingga setelah Hari Raya Idul Fitri 2026.
Menurutnya, keberadaan event atau hiburan juga turut berpengaruh terhadap peningkatan omzet pedagang.
“Kalau ada event atau hiburan biasanya pembeli juga lebih ramai. Harapannya kegiatan seperti itu bisa lebih sering diadakan,” katanya.
Di balik peningkatan penjualan, pelaku UMKM juga menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku.
Tara menyebut harga ayam potong yang menjadi bahan utama dagangannya naik hingga Rp40 ribu per kilogram selama Ramadan.
Meski biaya produksi meningkat, ia memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga pelanggan.
“Harga bahan baku naik, tapi saya tidak berani menaikkan harga karena takut pelanggan berkurang. Jadi keuntungannya memang lebih tipis,” pungkasnya.
Kondisi ini menunjukkan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga membawa dampak ekonomi bagi pelaku UMKM di Trenggalek.











