SUARA TRENGGALEK – Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Ngantru 3 Trenggalek yang sempat diduga berbau tidak sedap dan tidak layak konsumsi telah keluar.
Sebelumnya, sebanyak 400 porsi MBG dikembalikan oleh pihak SD Inovatif Trenggalek kepada SPPG Ngantru 3 sebagai langkah antisipasi.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek memaparkan hasil pemeriksaan tersebut setelah menerima laporan dari orang tua murid terkait kondisi makanan yang didistribusikan.
Kepala Diskesdalduk KB Trenggalek, dr. Sunarto menjelaskan usai mendapat laporan dari wali murid, petugas tim pengawasan MBG dari Dinas Kesehatan segera melakukan peninjauan ke lokasi dapur SPPG Ngantru 3 setelah laporan diterima.
“Saat kami melakukan peninjauan, dapur tersebut sedang memasak untuk sesi kedua. Setelah dilakukan pemeriksaan, memang ditemukan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, sehingga kami menyarankan agar proses memasak berikutnya tidak dilanjutkan,” ujar dr. Sunarto, Jumat (6/2/2026).
Selain menghentikan proses memasak lanjutan, dijelaskan Sunarto tim juga merekomendasikan agar menu MBG yang telah terdistribusi ditarik kembali.
Rekomendasi tersebut diberikan setelah petugas menemukan adanya bau tidak sedap pada beberapa menu makanan yang diperiksa di lokasi.
Atas temuan tersebut, selanjutnya petugas melakukan pembinaan dan edukasi kepada pengelola dapur, khususnya terkait penjamah makanan.
Edukasi meliputi pemilihan dan kualitas bahan baku, tata cara penyimpanan bahan makanan, pemisahan bahan mentah dan matang, serta penerapan sanitasi dan higiene.
“Setelah edukasi, kami mengambil sampel makanan untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Trenggalek. Untuk pemeriksaan bakteriologis memang membutuhkan proses pembiakan terlebih dahulu,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, sampel makanan dinyatakan negatif bakteri Escherichia coli (E. coli). Meski demikian, dr. Sunarto menegaskan bahwa hasil tersebut tidak menutup kemungkinan adanya bakteri patogen lainnya.
“E. coli negatif bukan berarti tidak ada kuman. Masih ada potensi bakteri lain seperti Staphylococcus, Shigella, Salmonella, dan lainnya. Oleh karena itu, pemeriksaan lanjutan tetap kami lakukan,” terangnya.
Terkait sumber bau tidak sedap, dr. Sunarto menyebut terdapat indikasi kuat berasal dari bahan baku ayam yang digunakan.
“Baunya sudah seperti bau anyir. Dari keterangan tim di lapangan. Serta juru masak mengakui ayam tersebut memang tidak sesegar biasanya. Tetap diolah, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, makanan yang mengalami pembusukan berpotensi menimbulkan keracunan karena bakteri dapat memproduksi racun.
Dampaknya dapat berupa diare, mual, muntah, pusing, hingga dehidrasi berat yang berisiko fatal, terutama pada anak-anak.
“Oleh karena itu, makanan harus benar-benar dipastikan segar, sehat, dan tidak mengandung kuman berbahaya,” tegasnya.
Pasca temuan tersebut, Diskesdalduk KB Trenggalek akan menyampaikan rekomendasi kepada Satuan Tugas (Satgas) MBG.
Seluruh tindak lanjut dan evaluasi selanjutnya akan dibahas bersama Satgas yang melibatkan berbagai unsur terkait.
“Setiap temuan akan kami koordinasikan dengan Satgas untuk menentukan langkah evaluasi dan tindak lanjut ke depan,” pungkas dr. Sunarto.











