KESEHATAN

Tips Mengelola Stres, Depresi Berakar Dari Masa Lalu dan Kecemasan Akan Masa Depan

×

Tips Mengelola Stres, Depresi Berakar Dari Masa Lalu dan Kecemasan Akan Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Perempuan pasien poli jiwa Trenggalek stres
Istimewa

SUARA TRENGGALEK – Warga Trenggalek harus tahu jika menjaga kesehatan mental yang mengakibatkan stres tidak selalu harus dilakukan dengan pengobatan medis.

Kesadaran diri, pengelolaan stres, hingga praktik mindfulness dinilai memiliki peran penting dalam meredakan kecemasan dan menjaga keseimbangan jiwa.

Karena depresi sering berakar dari masa lalu, sedangkan kecemasan berasal dari ketakutan akan masa depan

Dokter Spesialis Jiwa RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Yekti Nurhaeni menjelaskan bahwa kunci utama kesehatan mental berawal dari kejujuran seseorang terhadap dirinya sendiri.

Menurutnya, banyak pasien datang dengan berbagai keluhan, namun tidak menyadari atau bahkan menolak mengakui bahwa dirinya sedang memiliki masalah.

“Yang sering saya sampaikan ke pasien adalah harus jujur pada diri sendiri. Menyadari sepenuhnya, saat ini sedang apa, berada di mana, dan benar-benar hadir di situ,” ujar dr. Yekti.

Ia menjelaskan, kesadaran penuh terhadap kondisi diri yang dikenal sebagai mindfulness membantu seseorang mengenali masalah dengan lebih jernih. Ketika masalah disadari, proses penyelesaian justru menjadi lebih mudah.

Menurut dr. Yekti, stres kerap muncul akibat adanya jarak antara idealita dan realita. Oleh karena itu, ia menyarankan agar setiap orang tidak hanya memiliki satu tujuan hidup, tetapi beberapa rencana dengan tingkat usaha yang berbeda.

“Kalau punya cita-cita, jangan cuma satu. Bisa dua atau tiga. Ada yang perlu usaha keras, ada yang sedang, dan ada juga yang dengan usaha minimal bisa tercapai. Dengan begitu, kita tidak mudah stres ketika satu rencana tidak berjalan,” jelasnya.

Selain pola pikir, menjaga kesehatan fisik juga dinilai sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Pola makan seimbang, istirahat cukup, serta aktivitas fisik yang teratur disebut mampu membantu menjaga stabilitas emosi dan pikiran.

“Kalau fisiknya sehat, otomatis kesehatan mental lebih terjaga. Pola makan, istirahat, dan aktivitas diri itu harus diatur,” tambahnya.

Dalam menghadapi masalah, dr. Yekti menekankan pentingnya sikap realistis dan kemampuan mengelola diri. Ia mengingatkan bahwa tidak semua tugas harus dikerjakan sendiri.

“Kita bukan superman atau superwoman. Tugas itu perlu dipilah dan diprioritaskan. Mana yang harus dikerjakan sendiri, mana yang bisa didelegasikan,” katanya.

Ia juga menyarankan teknik relaksasi sederhana, seperti mengatur napas dengan memperpanjang hembusan napas, untuk membantu meredakan kecemasan. Teknik ini dinilai efektif ketika seseorang merasa panik atau terlalu cemas.

Terkait meditasi, dr. Yekti menyebut praktik tersebut sejalan dengan konsep mindfulness yang sudah lama dikenal dalam dunia medis. Menurutnya, meditasi memiliki kesamaan dengan ibadah yang dilakukan secara khusyuk.

“Salat yang khusyuk itu seperti mindfulness. Kita fokus dengan apa yang sedang kita hadapi, tidak ke mana-mana pikirannya. Itu sudah melatih kesehatan jiwa dan raga,” terangnya.

Secara medis, kesehatan mental berkaitan erat dengan kerja saraf dan hormon di otak, seperti serotonin. Ketidakseimbangan hormon tersebut dapat memicu gangguan seperti depresi. Dalam kondisi tertentu, pengobatan diperlukan untuk membantu menstabilkannya.

Ia juga menyinggung hasil penelitian yang menyebut puasa memiliki manfaat bagi kesehatan otak, termasuk merangsang pertumbuhan cabang sel saraf.

Namun demikian, prinsip utama dalam psikoterapi tetap pada konsep here and now atau “di sini dan saat ini”.

“Banyak orang terbebani masa lalu atau cemas terhadap masa depan. Padahal yang paling penting adalah apa yang kita hadapi sekarang. Depresi sering berakar dari masa lalu, sedangkan kecemasan berasal dari ketakutan akan masa depan,” pungkas dr. Yekti.

Ia berharap masyarakat semakin sadar pentingnya mengelola diri, pikiran, dan emosi sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan mental.