SUARA TRENGGALEK – Terminal Tipe C Durenan, Kabupaten Trenggalek, masih berada dalam kondisi serba tanggung. Tidak sepenuhnya mati, namun juga jauh dari kesan ramai.
Di tengah perubahan pola transportasi dan terus menurunnya minat masyarakat terhadap angkutan umum, terminal ini bertahan dengan aktivitas yang kembang kempis.
Terminal yang berada di jalur strategis menuju kawasan wisata Pantai Prigi tersebut sejatinya sempat dilirik sebagai ruang potensial untuk dikembangkan.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Perhubungan (DPKPP) Trenggalek, Budi Supriyanto, mengungkapkan bahwa Terminal Durenan pernah mendapat perhatian dari pengusaha nasional, Ajik Krisna.
“Soal Terminal Durenan, sempat mendapat kunjungan dari Ajik Krisna, kemudian menyarankan di Durenan bisa dimaksimalkan sebagai penyangga wisatawan yang akan berkunjung ke Prigi, seperti dibuat pusat oleh-oleh, namun dalam perkembangan masih belum,” ujar Budi.
Gagasan tersebut dinilai relevan dengan meningkatnya arus kunjungan wisata ke kawasan Prigi. Namun hingga kini, konsep pengembangan terminal sebagai penyangga wisata masih berhenti pada tahap wacana dan belum berlanjut ke realisasi.
Selain konsep wisata, Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga sempat merancang pendekatan lain dengan menjadikan Terminal Durenan sebagai pusat layanan masyarakat.
Terminal direncanakan tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik turun penumpang, tetapi juga sebagai lokasi pelayanan publik.
“Pak Kepala Dinas memiliki gagasan untuk pendekatan layanan masyarakat, seperti pembuatan KTP, izin usaha, dan Gerai UMM,” jelas Budi.
Namun, upaya pengembangan tersebut terbentur keterbatasan status lahan. Terminal Durenan berdiri di atas aset milik desa, dengan skema kontrak kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan pemerintah desa yang berlaku hingga tahun 2030.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Terminal Durenan masih tetap beroperasi. Aktivitas yang berlangsung saat ini meliputi angkutan kota, angkutan desa, serta truk pengangkut pupuk. Meski demikian, kontribusi pendapatan yang dihasilkan tergolong sangat minim.
“Di Terminal Durenan masih setor pendapatan, tapi paling sedikit. Per bulan setor pendapatan di Durenan kurang lebih Rp100 ribu,” ungkap Budi.
Kondisi Terminal Durenan mencerminkan tantangan yang dihadapi terminal-terminal tipe C di Trenggalek. Saat ini, terdapat lima terminal tipe C yang tersebar di Kecamatan Trenggalek, Pule, Panggul, Kampak, dan Durenan.
Meski aktivitas angkutan terus mengalami penurunan, sektor terminal secara akumulatif masih memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada tahun 2025, realisasi retribusi terminal bahkan mampu melampaui target yang ditetapkan.
“Alhamdulillah di tahun 2025 dari retribusi tercapai 113 persen dari target Rp118 juta,” kata Budi.
Meski demikian, capaian tersebut tidak serta-merta mendorong pemerintah daerah untuk menaikkan target di tahun berikutnya. Memasuki tahun 2026, DPKPP Trenggalek memilih mempertahankan target yang sama dengan pendekatan yang lebih realistis.
“Insyaallah 2026 target kami masih tetap. Kami tidak berani menambahkan target karena memang kondisi angkutan di Trenggalek semakin berkurang. Kalau target tinggi tapi tidak tercapai, kami juga kesulitan,” pungkasnya.
Menurutnya, penetapan target yang realistis dinilai lebih sehat dan sesuai dengan kondisi lapangan, dibandingkan menetapkan target tinggi di tengah menurunnya aktivitas angkutan umum di wilayah Trenggalek.











