Inti Berita:
• SMKN 2 Trenggalek membuka ekstrakurikuler esports yang diminati 84 siswa sebagai wadah edukasi karier industri digital dan pembeda dari judi online.
• Seleksi ketat tiga tahap dilakukan (berkas, skill, dan wawancara karakter) untuk menjaring tim inti gim Mobile Legends dan Free Fire.
• Ekstra ini ditargetkan jadi percontohan sekolah lain untuk mencetak siswa berprestasi, berkarakter, hingga membuka peluang masuk perguruan tinggi jalur esports.
SUARA TRENGGALEK – Ekstrakurikuler esports di SMKN 2 Trenggalek mulai mendapat antusiasme tinggi dari para siswa.
Sebanyak 84 siswa tercatat mendaftarkan diri dalam kegiatan yang menjadi wadah pengembangan minat dan bakat di bidang esports.
Pelatih esports SMKN 2 Trenggalek, Wildan Bisri, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan siswa dalam bermain gim.
Menurutnya, siswa juga perlu mendapat edukasi bahwa esports memiliki cakupan industri yang luas dan dapat membuka berbagai peluang pekerjaan.
“Tujuan ini tentu untuk edukasi kepada siswa, bahwasannya esports bukan lagi sekadar bermain game. Industri esports sangat luas dan juga bisa membuka lapangan pekerjaan ke depannya, seperti profesional player, pelatih atau coach, streamer, content creator, analis, manajer tim, dan masih banyak lainnya,” ujar Wildan.
Ia menilai pemahaman mengenai esports juga perlu diberikan kepada masyarakat. Esports saat ini telah menjadi bagian dari cabang olahraga yang berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Wildan juga menekankan pentingnya membedakan aktivitas esports dengan judi online.
“Memang dari esports kita bisa menghasilkan uang, baik dari turnamen, sponsor dan lainnya. Akan tetapi di sini kita menggunakan kemampuan, baik dari otak maupun tangan. Jadi perlu dibedakan antara esports dengan judi online,” jelasnya.
Menurut Wildan, perkembangan esports juga mulai membuka peluang bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Sejumlah perguruan tinggi, kata dia, telah menyediakan jalur penerimaan mahasiswa baru yang berkaitan dengan prestasi esports.
“Beberapa perguruan tinggi juga sudah menerima mahasiswa baru melalui jalur esports. Ini menjadi sebuah lompatan bagi siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” tambahnya.
Untuk tahap awal, ekstrakurikuler esports SMKN 2 Trenggalek mempertandingkan dua gim yang cukup diminati siswa, yakni Mobile Legends: Bang Bang dan Free Fire.
Pemilihan kedua gim tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan tingginya minat siswa.
“Karena ini masih baru, jadi kami menggunakan game yang diminati banyak siswa,” kata Wildan.
Dari 84 siswa yang mendaftar, tidak seluruhnya akan masuk dalam tim yang mewakili sekolah. Mereka terlebih dahulu mengikuti proses seleksi.
Untuk Mobile Legends, sebanyak 12 siswa dipilih dan dibagi menjadi dua tim. Masing-masing tim terdiri dari enam orang, yakni lima pemain inti dan satu pemain cadangan.
Sementara untuk Free Fire, sebanyak 10 siswa dipilih dan dibagi menjadi dua tim. Masing-masing tim terdiri dari lima orang dengan komposisi empat pemain inti dan satu pemain cadangan.
Kegiatan latihan dilaksanakan rutin satu kali dalam seminggu, yakni setiap Sabtu di lingkungan sekolah. Ekstrakurikuler tersebut dibina oleh Erik Agung Utomo, yang akrab disapa Pak Erik.
Wildan menjelaskan proses pembentukan tim dilakukan melalui tiga tahapan seleksi.
Tahap pertama berupa seleksi administrasi atau berkas.
Tahapan ini dilakukan untuk memastikan peserta yang mendaftar merupakan siswa dan siswi SMKN 2 Trenggalek.
Tahap kedua merupakan seleksi kemampuan. Mengingat jumlah pendaftar cukup banyak, kemampuan peserta dinilai dari berbagai aspek.
Mulai dari komunikasi, kepemimpinan, penguasaan mikro dan makro, strategi hingga kemampuan analisis permainan.
“Dari seleksi kedua ini kami saring untuk Mobile Legends menjadi 24 siswa dan Free Fire 20 siswa,” ungkapnya.
Peserta yang lolos kemudian mengikuti seleksi tahap ketiga berupa wawancara.
Tahapan tersebut dilakukan untuk mengetahui karakter dan kepribadian masing-masing pemain sebelum dipilih menjadi bagian dari tim sekolah.
“Seleksi tahap ketiga ini hanya wawancara, guna mengetahui karakter individu pemain. Karena kalau bicara esports, bukan hanya jago dalam skill saja, tetapi juga etika di luar pertandingan,” imbuhnya.
Wildan berharap langkah yang dilakukan SMKN 2 Trenggalek dapat menjadi contoh bagi sekolah lain untuk mulai memberikan ruang bagi perkembangan esports di lingkungan pendidikan.
“Harapan kita, SMKN 2 Trenggalek ini bisa menjadi sekolah percontohan bagi sekolah-sekolah lain, bahwa esports juga bisa masuk dan dikembangkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Tentunya bukan sekadar bermain game, tetapi bagaimana kita mengarahkan siswa untuk berprestasi, membangun karakter, sekaligus mengenalkan mereka pada luasnya industri esports,” pungkas Wildan.











