SUARA TRENGGALEK – Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek menerapkan sistem pendidikan berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Selain menggunakan kurikulum nasional, sekolah ini juga menambahkan kurikulum berbasis asrama dan pendekatan inklusif bagi siswa.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek, Yogyantoro, menjelaskan bahwa kurikulum yang diterapkan merupakan kombinasi antara kurikulum nasional dan kurikulum internal sekolah.
“Kurikulum yang kita terapkan di sekolah rakyat ini adalah kurikulum nasional ditambah dengan kurikulum asrama. Untuk kurikulum nasional tetap mengacu pada Kurikulum Merdeka,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah juga mengembangkan pendekatan khusus bernama multi exit multi entry yang memungkinkan siswa belajar secara fleksibel sesuai kemampuan masing-masing.
Selain itu, sistem pembelajaran juga berbasis modul dan didukung e-learning untuk mengukur penguasaan materi esensial siswa. Sekolah juga memiliki kurikulum internal yang disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan.
Tak hanya fokus pada kurikulum, sekolah ini juga memberikan perhatian khusus kepada siswa dengan latar belakang sosial ekonomi beragam, termasuk dari keluarga kurang beruntung.
“Banyak peserta didik kami berasal dari latar belakang keluarga broken home atau kurang beruntung. Kondisi ini tentu berdampak pada tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Untuk itu, sekolah menerapkan sistem pendidikan inklusif yang mengakomodasi siswa dengan berbagai hambatan belajar, termasuk kategori slow learner hingga struggling student.
Sebagai bentuk dukungan, sekolah menyediakan fasilitas seperti klinik belajar, ruang konseling, serta melibatkan psikolog dari Dinas Sosial dan PPA.
Dalam proses pembelajaran, diterapkan metode co-teaching, yakni satu guru utama didampingi guru pendamping untuk membantu siswa yang membutuhkan perhatian khusus.
“Co-teacher ini membantu peserta didik yang perlu remedial, sementara yang cepat belajar diberikan pengayaan,” katanya.
Yogyantoro menegaskan, pendekatan pembelajaran tetap berfokus pada potensi masing-masing siswa, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
“Kalau akademiknya masih kurang, kita dorong di potensi lain, termasuk lomba akademik atau pengembangan bakat lainnya,” pungkasnya.











