PERISTIWA

Revolusi Prancis Jejak dari Eropa ke Indonesia

×

Revolusi Prancis Jejak dari Eropa ke Indonesia

Sebarkan artikel ini
Revolusi Prancis
Istimewa.

SUARA TRENGGALEK Revolusi Prancis yang meletus pada akhir abad ke-18 bukan hanya mengguncang tatanan politik di Eropa, tetapi juga menyebarkan gaungnya hingga ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Slogan yang lahir dari revolusi ini – liberté, égalité, fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan) – menjelma menjadi inspirasi bagi banyak bangsa yang terjajah. Sejarah mencatat bahwa semangat Revolusi Prancis ikut memberi percikan ide bagi lahirnya nasionalisme di Indonesia.

Akar Sejarah Revolusi Prancis

Revolusi Prancis berawal dari ketidakpuasan rakyat terhadap sistem monarki absolut yang dijalankan oleh Raja Louis XVI. Beban pajak menindih kaum petani dan rakyat kecil, sementara kaum bangsawan dan gereja menikmati berbagai keistimewaan. Ketidakadilan sosial ini diperparah oleh krisis keuangan negara akibat perang dan gaya hidup mewah istana Versailles.

Pada 1789, rakyat Prancis bangkit. Bastille, simbol kekuasaan absolut, diserbu dan dihancurkan. Dari titik inilah revolusi berkembang, menumbangkan monarki, dan melahirkan republik. Meski jalan revolusi penuh dengan pertumpahan darah – termasuk masa teror di bawah Robespierre – gagasan baru tentang kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan tidak bisa dibendung.

Revolusi Prancis menandai lahirnya era modern di Eropa, sebuah babak ketika rakyat mulai menuntut hak politik, menolak feodalisme, dan memperjuangkan demokrasi.

Gelombang Revolusi yang Menyebar

Dampak Revolusi Prancis tidak berhenti di Paris. Ide-idenya menyebar ke Eropa, bahkan hingga ke Amerika Latin dan Asia. Semangat melawan tirani mengilhami berbagai gerakan perlawanan terhadap kolonialisme.

Di Eropa, revolusi memicu munculnya gerakan liberalisme, sosialisme, dan nasionalisme. Di Amerika Latin, tokoh seperti Simón Bolívar terinspirasi untuk memerdekakan bangsanya dari Spanyol. Gelombang ide ini, lambat laun, juga sampai ke Hindia Belanda, yang kelak bernama Indonesia.

Kolonialisme dan Benih Nasionalisme di Hindia Belanda

Pada abad ke-19, Hindia Belanda berada dalam genggaman kolonial. Sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diberlakukan sejak 1830 membuat penderitaan rakyat semakin parah. Hasil bumi diekspor untuk mengisi kas Belanda, sementara rakyat pribumi hidup miskin.

Namun, seiring perkembangan pendidikan, persentuhan dengan Barat, dan kebijakan politik etis pada awal abad ke-20, muncul lapisan baru dalam masyarakat: kaum terpelajar. Golongan ini mulai membaca, berdiskusi, dan mengenal ide-ide modern, termasuk demokrasi dan nasionalisme.

Tak bisa dilepaskan, sumber inspirasi yang mereka baca banyak berakar dari pemikiran Revolusi Prancis. Prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan menjelma menjadi semangat melawan kolonialisme.

Dari Paris ke Budi Utomo

Pada 1908 lahirlah Budi Utomo, organisasi modern pertama di Indonesia. Meski awalnya berfokus pada pendidikan dan kebudayaan Jawa, kehadiran Budi Utomo menandai babak baru: kesadaran kolektif sebagai bangsa. Tak lama kemudian, organisasi lain bermunculan: Sarekat Islam, Indische Partij, hingga Perhimpunan Indonesia.

Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir kemudian banyak membaca buku-buku tentang revolusi dan ideologi politik di Eropa. Mereka memahami bagaimana rakyat Prancis melawan ketidakadilan, dan bagaimana semangat itu bisa diterjemahkan dalam konteks Indonesia.

Soekarno, misalnya, sering menyinggung konsep liberté, égalité, fraternité dalam pidato-pidatonya. Ia mengaitkan semangat itu dengan perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme.

Revolusi Prancis dan Sumpah Pemuda

Puncak awal nasionalisme Indonesia tercermin dalam Sumpah Pemuda 1928. Ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa lahir dari pertemuan organisasi-organisasi pemuda.

Jika Revolusi Prancis menekankan pada persaudaraan dan persamaan, maka Sumpah Pemuda adalah versi Indonesia dari gagasan itu. Bedanya, konteksnya bukan melawan monarki absolut, melainkan melawan kolonialisme.

Slogan fraternité (persaudaraan) di Prancis diterjemahkan menjadi semangat persatuan di Nusantara.

Warisan Revolusi dalam Proklamasi 1945

Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, gema Revolusi Prancis seolah terasa kembali. Indonesia menegaskan diri sebagai bangsa merdeka yang berdaulat.

Dalam pembukaan UUD 1945, semangat kebebasan sangat jelas: “Kemerdekaan ialah hak segala bangsa.” Pernyataan ini selaras dengan semangat universal yang lahir dari Revolusi Prancis, bahwa rakyat berhak menentukan nasibnya sendiri.

Meski bentuk dan jalan perjuangan berbeda, ada garis penghubung ideologis antara Paris 1789 dengan Jakarta 1945: keberanian rakyat menuntut kebebasan.

Kritik terhadap Revolusi Prancis

Meski begitu, Revolusi Prancis tidak tanpa cela. Masa teror di bawah Komite Keselamatan Publik memperlihatkan bagaimana perjuangan bisa berubah menjadi kekerasan yang mengorbankan ribuan nyawa. Napoleon Bonaparte yang muncul kemudian bahkan kembali membentuk sistem otoriter, meski dalam bentuk militeristik.

Namun, gagasan yang tertinggal dari revolusi lebih kuat daripada sisi kelamnya. Ide tentang kedaulatan rakyat dan hak asasi manusia terus menjadi fondasi demokrasi modern.

Indonesia dan Tantangan Demokrasi

Jika Revolusi Prancis memberi pelajaran tentang pentingnya kebebasan, maka Indonesia menghadapi tantangan untuk menjaga kebebasan itu. Setelah merdeka, bangsa ini melewati berbagai fase politik: demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, hingga orde baru.

Dalam perjalanan itu, prinsip kebebasan seringkali tereduksi oleh kepentingan kekuasaan. Sama seperti di Prancis, demokrasi di Indonesia tidak pernah berjalan mulus, selalu penuh dinamika, konflik, dan pertarungan kepentingan.

Namun, warisan Revolusi Prancis tetap relevan: rakyat tidak boleh berhenti menuntut kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Jejak Revolusi dalam Kehidupan Modern

Kini, ketika dunia semakin terhubung, gagasan Revolusi Prancis masih terasa. Kebebasan berekspresi, kesetaraan gender, hingga hak-hak sipil selalu merujuk pada prinsip-prinsip universal yang lahir lebih dari dua abad lalu.

Di Indonesia, semangat itu hidup dalam kebebasan pers, hak berserikat, dan partisipasi politik. Meski sering diuji oleh represi dan ketidakadilan, nilai-nilai yang diwariskan revolusi terus menjadi pengingat bahwa demokrasi harus diperjuangkan setiap hari.

Penutup

Revolusi Prancis bukan hanya catatan sejarah Eropa, melainkan warisan universal yang menginspirasi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Indonesia, dengan perjuangan panjangnya melawan kolonialisme, ikut menyerap energi dari revolusi tersebut.

Dari Bastille hingga Proklamasi 1945, ada benang merah: rakyat yang bersatu mampu meruntuhkan tirani.

Sejarah ini sekaligus menjadi pengingat: kebebasan tidak pernah diberikan, melainkan selalu diperjuangkan.