Inti Berita:
• PERSAGI Trenggalek tidak terlibat langsung dalam program MBG.
• Peran utama: membina anggota yang bertugas sebagai ahli gizi di dapur MBG.
• Tidak ada evaluasi formal, lebih ke sharing dan diskusi teknis.
• Total anggota sekitar 125 orang, tersebar di berbagai instansi.
• Banyak ahli gizi baru bergabung lewat program MBG.
SUARA TRENGGALEK – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Kabupaten Trenggalek menegaskan tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski demikian, organisasi ini tetap berperan dan membantu terkait pelaksanaan konsultasi dan pembinaan terhadap anggotanya yang bertugas di dapur MBG.
Ketua DPC PERSAGI Trenggalek, Rio Ardi Virgianto menjelaskan bahwa keterlibatan PERSAGI lebih bersifat tidak langsung. Namun melalui pendampingan profesional kepada para ahli gizi yang bekerja di lapangan.
“Kalau PERSAGI secara organisasi tidak terlibat langsung dalam MBG. Tapi kami membina anggota kami yang ada di dapur MBG, karena hampir semua dapur MBG di Trenggalek itu ada anggota kami,” ujarnya.
Menurut Rio, PERSAGI tidak melakukan evaluasi formal terhadap pelaksanaan MBG. Namun, pihaknya aktif melakukan diskusi dan berbagi pengetahuan dengan para anggota, terutama terkait penyelenggaraan makanan dan aspek keilmuan gizi.
“Kalau evaluasi secara langsung tidak. Kami lebih ke sharing, apa yang kurang, apa yang perlu ditanyakan. Biasanya terkait penyelenggaraan makanan dan hal-hal teknis lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan berbagi tersebut juga mencakup aspek organisasi, keprofesian, serta penguatan kapasitas anggota, terutama bagi ahli gizi yang baru bergabung melalui program MBG.
“Banyak anggota baru yang bergabung karena terlibat di MBG. Jadi kami juga sharing terkait organisasi, keprofesian, dan keilmuan,” imbuhnya.
Terkait jumlah tenaga ahli gizi di Trenggalek, Rio menyebut pihaknya mencatat sekitar 125 anggota. Namun, jumlah tersebut tersebar di berbagai sektor, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik swasta, dan sebagian di dapur MBG.
“Kalau yang terdata di kami sekitar 125. Tapi mayoritas tidak di MBG, melainkan di instansi seperti rumah sakit dan puskesmas,” katanya.
Ia juga mengakui, pihaknya belum dapat memastikan apakah jumlah tenaga ahli gizi di Trenggalek sudah mencukupi, mengingat tidak semua lulusan gizi terdaftar dalam organisasi.
“Kami tidak bisa menghitung yang tidak masuk organisasi. Misalnya lulusan baru yang pulang ke Trenggalek tapi belum masuk instansi atau belum bergabung dengan kami,” pungkasnya.











