KESEHATAN

PERSAGI Trenggalek Sarankan Kurma Hingga Roti Gandum Jadi Menu Kering MBG di Puasa Ramadhan

×

PERSAGI Trenggalek Sarankan Kurma Hingga Roti Gandum Jadi Menu Kering MBG di Puasa Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ketua DPC Persagi Trenggalek saat menyampaikan saran pemberian menu kering dalam pelaksanaan mbg di puasa ramadhan.

SUARA TRENGGALEK – Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Trenggalek menyarankan adanya penyesuaian waktu pemrosesan dan distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan puasa ramadhan.

Namun demikian, pihaknya juga memberikan beberapa saran menu kering tanpa mengurangi kandungan gizi makanan jika proses penyesuaian distribusi mengalami kesulitan.

Ketua DPC PERSAGI Trenggalek, Rio Ardi Virgianto menjelaskan bahwa pada bulan Ramadan target konsumsi makanan bergizi dialihkan pada waktu berbuka puasa.

Oleh karena itu, waktu pengolahan dan pendistribusian makanan sebaiknya disesuaikan.

“Untuk MBG di bulan ramadhan, target konsumsinya saat buka puasa. Berarti sebaiknya dilakukan pergeseran waktu pemrosesan dan distribusi makanan. Jika biasanya distribusi pagi, maka perlu disesuaikan dengan jadwal berbuka,” ujarnya, Senin (16/2/2026).

Menurut Rio, kebijakan tersebut memang memiliki tantangan, terutama dalam hal koordinasi dengan pihak sekolah apabila siswa harus mengambil makanan pada waktu tertentu.

Apabila penyesuaian waktu dinilai sulit diterapkan, PERSAGI menyebut penggantian menu menjadi alternatif yang bisa dipertimbangkan.

Menu kering menjadi salah satu opsi terakhir, sebagaimana sebelumnya juga disampaikan oleh pihak Badan Gizi Nasional (BGN).

“Kalau tantangan pergeseran waktu sulit dilakukan, alternatifnya penggantian menu ke menu kering. Namun yang terpenting tetap memenuhi kebutuhan gizi anak-anak,” tegasnya.

Ia menjelaskan, kebutuhan protein tetap dapat dipenuhi melalui bahan seperti abon ikan atau abon daging.

Sementara sumber energi bisa diperoleh dari roti, gandum, maupun bahan kering lainnya.

Selain itu, kurma juga dinilai layak menjadi bagian dari menu Ramadan karena memiliki daya simpan yang baik tanpa pendinginan.

“Kurma juga bagus, kurma memang termasuk bahan makanan yang tahan tanpa pendinginan,” tambahnya.

Meski demikian, Rio mengingatkan agar dapur penyedia MBG cermat dalam memilih bahan makanan kering.

Ia menyoroti adanya produk ultra-proses yang telah melalui tahapan pengolahan berulang dan penambahan zat kimia tertentu, sehingga kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa aspek utama dalam program MBG tetaplah keamanan pangan. Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi keamanan pangan, yakni suhu, waktu, dan kebersihan.

Ia menjelaskan adanya “zona bahaya” suhu tertentu pada makanan basah matang, yaitu pada rentang 5 hingga 60 derajat Celsius. Pada rentang suhu tersebut, bakteri dapat berkembang biak dengan cepat.

“Sekitar setiap 20 menit, bakteri bisa berkembang biak berlipat ganda pada suhu itu. Rekomendasi WHO, makanan matang yang berada pada suhu tersebut tanpa pemanasan atau pendinginan lanjutan idealnya dikonsumsi maksimal dua jam setelah matang,” paparnya.

Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, PERSAGI Trenggalek menegaskan bahwa penyesuaian waktu distribusi tetap menjadi rekomendasi utama selama Ramadan.

Namun, apabila tidak memungkinkan, penggantian menu kering yang tetap memenuhi standar gizi dan keamanan pangan dapat menjadi solusi alternatif.