BUDAYA

Metri Bumi di Trenggalek Dalam Upaya Menjaga Kelestarian Sumber Air

×

Metri Bumi di Trenggalek Dalam Upaya Menjaga Kelestarian Sumber Air

Sebarkan artikel ini
Metri Bumi Trenggalek
Bupati Trenggalek saat melakukan proses metri bumi di salah satu sumber mata air di wilayah kampak.

SUARA TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menggelar kegiatan Metri Bumi di Sumber Ngudalan, Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak, Rabu (27/7/2025).

Acara yang diikuti warga dan tokoh masyarakat itu dilakukan dengan menanam pohon serta menyarungi pohon di sekitar sumber menggunakan kain batik sebagai simbol ajakan menjaga kelestarian air.

Menurut Nur Arifin, kegiatan tersebut bukan tindakan musrik, melainkan bentuk edukasi agar masyarakat menjaga pohon dan sumber air sebagai penopang kehidupan.

“Sumber Ngudalan ini dekat dengan situs Empu Sendok. Kita belajar dari orang terdahulu yang sudah berpesan jangan merusak sawah, jangan rusak hutan, dan sebagainya,” ujarnya.

Ia meminta seluruh desa di Trenggalek juga melakukan kegiatan serupa di sumber air masing-masing. “Kalau bersih pasti sehat, kalau sehat tidak perlu keluar uang untuk berobat. Kalau air cukup, pertanian terbantu, ekonomi naik, dan wisata juga bisa datang,” tambahnya.

Marsudi, dalang wayang kulit sekaligus pemerhati budaya asal Desa Sugihan, menyebut Metri Bumi sebagai wujud syukur atas anugerah air. “Air ini sumber kehidupan. Dulu raja-raja maupun tokoh spiritual selalu memilih tempat pertapaan dekat sumber air alami. Tujuannya mencari kemakmuran dan keberkahan,” jelasnya.

Ia menilai langkah Bupati Trenggalek dalam menjaga kearifan lokal sangat positif. “Kalau digelar rutin tahunan, ini bukan hanya melestarikan budaya, tapi juga bisa menarik pengunjung dan menggerakkan perekonomian lokal,” katanya.

Marsudi menambahkan, Sumber Ngudalan memiliki nilai sejarah karena pernah menjadi tempat pertapaan Empu Sendok, pendiri Kerajaan Medang di Jawa Timur.

Berkat bantuan warga Kampak, kala itu wilayah setempat diberi status daerah perdikan atau bebas pajak. Hingga kini, sumber air tersebut tetap mengalir dan menjadi penopang kebutuhan warga, terutama untuk pertanian.