PERISTIWA

Menu MBG Dari SPPG Ngantru 3 Trenggalek Bau, Sumber Dari Daging Ayam Sudah Tak Segar

×

Menu MBG Dari SPPG Ngantru 3 Trenggalek Bau, Sumber Dari Daging Ayam Sudah Tak Segar

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Trenggalek, dr. Sunarto.

SUARA TRENGGALEK – Hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Trenggalek porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngantru 3 Trenggalek, dinyatakan negatif bakteri Escherichia coli (E. coli).

Meski demikian, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek menegaskan hasil tersebut belum dapat memastikan sepenuhnya keamanan pangan karena potensi bakteri lain masih mungkin ada.

Kasus ini mencuat setelah sekitar 400 porsi MBG yang diberikan SPPG Ngantru 3 untuk SD Inovatif Trenggalek pada Kamis (5/2/2026) dikembalikan. Pengembalian dilakukan karena menu MBG yang diterima sekolah tercium bau menyengat dan diduga tidak layak konsumsi.

Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, Sunarto menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan awal dari orang tua murid. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan inspeksi langsung ke dapur SPPG Ngantru 3 oleh tim pengawasan MBG.

“Di Dinas Kesehatan memang ada tim pengawasan MBG. Untuk kasus ini, kami menerima laporan dari orang tua murid, kemudian kami tindak lanjuti dengan peninjauan ke lokasi dapur SPPG Ngantru 3,” ujar Sunarto, Jumat (6/2/2026).

Saat tim melakukan inspeksi, disampaikan Sunarto bahwa dapur diketahui masih menjalankan aktivitas memasak untuk sesi kedua. Namun, hasil pemeriksaan menemukan sejumlah aspek yang perlu mendapatkan perhatian serius.

“Pada saat kami periksa, dapur masih memasak untuk sesi kedua. Setelah kami lakukan pengecekan, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, sehingga kami menyarankan agar proses memasak MBG tidak dilanjutkan,” jelasnya.

Selain menghentikan proses produksi sementara sehari kemarin, pihaknya juga merekomendasikan agar makanan yang telah terdistribusi ditarik kembali.

“Kami juga menyarankan agar MBG yang sudah didistribusikan diambil kembali, karena dari sampel yang kami periksa sudah tercium bau yang tidak sesuai,” tambah Sunarto.

Sebagai tindak lanjut, Sunarto memberikan edukasi menyeluruh kepada pengelola dapur. Edukasi tersebut mencakup penanganan bahan baku, penyimpanan bahan makanan, pemisahan bahan mentah dan matang, hingga penerapan sanitasi dan higiene penjamah makanan.

“Kami lakukan pembinaan terkait penjamah makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pemisahan bahan mentah dan matang, serta memastikan kualitas bahan baku yang digunakan,” terangnya.

Sampel makanan yang terindikasi berbau kemudian diperiksa di Labkesda Trenggalek. Hasil pemeriksaan menunjukkan negatif bakteri E. coli. Namun, Sunarto menegaskan bahwa kemampuan laboratorium daerah masih terbatas.

“Hasil pemeriksaan E. coli memang negatif, tetapi itu bukan berarti tidak ada kuman. Masih ada potensi bakteri lain seperti Staphylococcus, Shigella, dan Salmonella,” paparnya.

Lebih lanjut Sunarto menerangkan jika makanan tersebut sampai dikonsumsi dan menimbulkan keluhan, maka pemeriksaan lanjutan harus dilakukan di laboratorium rujukan di Surabaya.

Terkait sumber bau tidak sedap, Sunarto menduga kuat berasal dari bahan baku ayam yang digunakan sudah tidak dalam keadaan segar.

“Baunya sudah seperti bau anyir. Dari keterangan tim di lapangan dan juru masak, ayam yang digunakan memang sudah tidak sesegar biasanya. Tetap diolah, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan,” ungkap Sunarto.

Pihaknya juga tetap memastikan pengawasan MBG akan terus diperketat guna menjamin keamanan dan kesehatan makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah.