KESEHATAN

Laporan Soal MBG di Trenggalek Jadi Dasar Pemeriksaan Laboratorium

×

Laporan Soal MBG di Trenggalek Jadi Dasar Pemeriksaan Laboratorium

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek, dr Sunarto.

SUARA TRENGGALEK – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek, dr. Sunarto, menegaskan bahwa mekanisme pengaduan terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbuka untuk siapa saja, tidak terbatas hanya pada orang tua murid.

Hal tersebut disampaikan dr. Sunarto menanggapi adanya laporan dugaan makanan MBG yang tidak segar, yang sebelumnya menjadi pengaduan pertama dari wali murid kepada Dinas Kesehatan.

“Pengaduan itu sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa pun. Tidak harus orang tua murid dan tidak harus langsung ke Dinas Kesehatan,” ujar dr. Sunarto.

Ia menjelaskan, laporan bisa disampaikan melalui berbagai saluran, termasuk media sosial resmi Diskesdalduk KB Trenggalek, maupun kepada unsur pemerintah daerah lainnya.

Menurutnya, seluruh perangkat daerah memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengawal keamanan dan mutu pelaksanaan program MBG.

“Bisa lewat Instagram kami, atau ke unsur pemerintah daerah yang lain. Tidak harus ke kami. Siapa pun boleh mengadu, asal berkaitan dengan makanan yang tidak segar atau tidak layak,” jelasnya.

Sunarto menambahkan, setiap pengaduan yang masuk akan dikoordinasikan bersama Satuan Tugas (Satgas) MBG untuk mencari solusi terbaik, termasuk evaluasi dapur penyedia makanan.

Selain itu, pengaduan juga menjadi dasar dilakukannya pemeriksaan laboratorium. Jenis pemeriksaan, kata dia, bergantung pada kondisi di lapangan, khususnya apakah makanan tersebut sempat dikonsumsi atau belum.

“Kalau makanan sudah termakan, meskipun tidak ada korban, tetap harus diperiksa laboratorium secara lengkap sampai ke Surabaya,” katanya.

Pemeriksaan lanjutan tersebut meliputi deteksi berbagai bakteri berbahaya seperti Staphylococcus, Shigella, dan Salmonella.

Sementara itu, laboratorium daerah di Trenggalek saat ini melakukan skrining awal terhadap bakteri Escherichia coli (E. coli), yang dinilai sebagai salah satu penyebab paling sering pada kasus keracunan makanan.

“E. coli itu yang paling sering terjadi, sehingga menjadi skrining awal yang kami lakukan di sini,” pungkas dr. Sunarto.
Jika Anda ingin: