SUARA TRENGGALEK – Sekolah Dasar (SD) Inovatif di Trenggalek secara resmi menyatakan menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026.
Penolakan tersebut didasarkan pada kajian dan pertimbangan pendidikan, khususnya dalam melatih siswa menjalankan ibadah puasa ramadan sejak dini.
Saat ditemui awak media, Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi mengatakan pihak sekolah telah menyampaikan keputusan tersebut kepada pihak dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekitar dua pekan lalu.
“Sekitar dua minggu yang lalu saya sudah menyampaikan ke bagian dapur atau SPPG bahwa MBG selama Ramadhan di SD dihentikan dulu karena kita melatih anak-anak untuk berpuasa,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Menurut Ikhsan, kehadiran makanan di lingkungan sekolah saat jam belajar dikhawatirkan dapat mengganggu konsentrasi dan komitmen mendidik siswa dalam menjalani latihan puasa.
Ia meyakini orang tua pasti juga telah membiasakan anak-anak untuk bangun sahur dan belajar menahan diri hingga waktu berbuka, meskipun masih dalam tahap latihan.
“Meskipun ya mungkin namanya latihan sampai beduk istilahnya ya. Ndak masalah yang penting latihan. Tapi kalau ada MBG itu nanti kan pasti akan mengganggu keimanan anak-anak,” ungkapnya
Ikhsan juga menerangkan jika bagaimanapun saat ada makanan kalau hari-hari biasa, pasti makanan itu biasa. Tapi kalau puasa mungkin itu akan sangat menggoda, sehingga dapat mengganggu keimanan dan pendidikan anak.
“Kalau saat ramadan ada makanan, pasti akan mengganggu. Bisa saja siang itu dimakan. Itu yang menjadi keyakinan kami, sehingga kami memutuskan untuk menolak selama ramadan,” jelasnya.
Meski demikian, kebijakan penolakan tersebut hanya berlaku selama bulan ramadhan. Setelah bulan puasa berakhir, kegiatan MBG di sekolah akan kembali berjalan normal.
“Setelah ramadan, kalau masih dikasih MBG ya enggak apa-apa, enggak pun juga enggak apa-apa,” tutur Ikhsan.
Terkait pemberitahuan kepada wali murid, Ikhsan menyebut secara resmi belum ada surat edaran tertulis, namun secara lisan telah disampaikan kepada sebagian orang tua siswa.
Ia juga menyampaikan usulan agar selama ramadan MBG dapat diberikan dalam bentuk lain, misalnya uang tunai yang dapat dimanfaatkan siswa untuk kebutuhan berbuka atau ditabung menjelang Hari Raya.
“Umpama dikasih uang Rp 15.000, Rp 10.000 untuk makan, yang Rp 5.000 untuk disimpan ditabung untuk beli baju lebaran, itu kan sangat bermanfaat. Tidak hanya di sini mungkin untuk semuanya juga akan sangat bermanfaat,” jelasnya.
Sementara itu, sebelumnya Koordinator Wilayah SPPG Trenggalek, Neo Ordikla, menyampaikan bahwa berdasarkan instruksi dari Badan Gizi Nasional (BGN), pelayanan MBG bagi siswa tetap berjalan mulai Senin, 23 Februari 2026.
Selama Ramadhan, sistem distribusi dilakukan melalui paket makanan kemasan sehat yang dikirim ke masing-masing sekolah dari Senin hingga Sabtu.
Namun demikian, BGN memberikan fleksibilitas kepada satuan pendidikan. Sekolah yang memilih tidak menerima program MBG selama Ramadhan diperbolehkan, dengan ketentuan menyampaikan surat penolakan resmi dan berkoordinasi dengan SPPG setempat.
Kebijakan tersebut memberikan ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan program dengan kebutuhan dan kebijakan internal masing-masing, termasuk dalam mendukung pendidikan ibadah puasa bagi siswa.











