SUARA TRENGGALEK – Menjelang perayaan Kupatan, pedagang anyamam ketupat di Trenggalek mulai merasakan peningkatan permintaan, meski tidak seramai tahun sebelumnya.
Salah satu pedagang bernama Paito, warga Desa Ngares, mengaku telah berjualan ketupat sejak 2014. Ia menyebut penjualan ketupat bersifat musiman dan mulai ramai beberapa hari setelah Idul Fitri.
“Sudah mulai 2014. Ini musiman, ramai biasanya mulai hari raya ke-5,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Paito menjelaskan, harga ketupat yang dijualnya relatif terjangkau, yakni Rp 1.000 per biji. Dalam satu ikat atau bendel berisi 10 ketupat yang dijual seharga Rp10.000.
“Kalau per biji Rp 1.000, satu ikat isinya 10,” katanya.
Untuk bahan baku, Paito mengaku membeli janur dari petani dengan harga sekitar Rp 500 per lembar.
“Kalau bahan baku sendiri ini dari sana sudah beli dari petani. Satu janur Rp 500,” jelasnya.
Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 300 ketupat. Namun, ia mengaku keuntungan yang diperoleh tidak menentu.
“Kalau hari ini sekitar 300-an anyaman kupat per hari. Kalau keuntungan enggak nentu,” ucapnya.
Meski permintaan meningkat menjelang Kupatan, Paito menilai penjualan tahun ini sedikit lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau dibanding tahun kemarin, tahun ini agak sepi,” ujarnya.
Menurutnya, puncak keramaian pembeli biasanya terjadi menjelang perayaan Kupatan atau sekitar hari ke-7 setelah Idul Fitri.
“Ramainya pembeli itu biasanya lebaran ke-7, menjelang perayaan ketupat,” pungkasnya.











