Inti Berita,
• Dinkes Trenggalek temukan gejala kecemasan dan depresi pada anak
• Kecemasan ringan 0,86%, depresi ringan 0,81%
• Gejala bisa muncul sejak usia 7 tahun
• Dipengaruhi faktor biologis, psikologis dan lingkungan
• Bisa disembuhkan dengan bantuan profesional dan dukungan keluarga
SUARA TRENGGALEK – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk) Trenggalek menemukan adanya gejala kecemasan dan depresi pada anak usia sekolah berdasarkan hasil skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Kepala Diskesdalduk Trenggalek, dr. Sunarto menyampaikan bahwa dari hasil skrining tersebut, ditemukan gejala kecemasan ringan sebesar 0,86 persen dan kecemasan berat 0,66 persen.
“Sementara untuk depresi, ditemukan gejala depresi ringan sebesar 0,81 persen dan depresi berat 0,35 persen,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, munculnya gejala kecemasan dan depresi pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari biologis, psikologis hingga lingkungan.
Faktor biologis berkaitan dengan riwayat genetik atau keturunan dalam keluarga. Sedangkan faktor psikologis dapat dipicu oleh trauma masa lalu serta pola pikir anak.
“Adapun faktor lingkungan meliputi tekanan sosial, kurangnya dukungan, hingga gaya hidup yang tidak sesuai,” paparnya.
Menurutnya, gejala kecemasan dan depresi sudah bisa mulai terdeteksi sejak usia 7 tahun. Oleh karena itu, skrining kesehatan jiwa telah diterapkan pada kelompok anak usia sekolah.
“Karena itu dalam program CKG, skrining kecemasan dan depresi sudah diberikan sejak anak usia sekolah,” jelasnya.
Meski demikian, Sunarto menegaskan bahwa kondisi tersebut masih dapat ditangani.
Penanganan membutuhkan bantuan tenaga profesional seperti psikiater, psikolog, maupun perawat jiwa, serta dukungan penuh dari keluarga.
“Dengan penanganan yang tepat dan dukungan keluarga, gejala tersebut bisa disembuhkan,” tegasnya.
Sebagai langkah penanganan, Sunarto menambahkan pihaknya terus melakukan berbagai upaya promotif dan preventif.
Di antaranya melalui sosialisasi pentingnya kesehatan jiwa, deteksi dini secara rutin, serta pelatihan kader untuk pendampingan masyarakat dengan masalah kesehatan mental.











