Inti Berita,
• Harga plastik kemasan di Trenggalek mulai naik.
• Kenaikan dipicu konflik global dan bahan baku impor.
• Beberapa jenis plastik naik hingga sekitar Rp4.000.
• Pemerintah diminta menjaga agar harga kebutuhan pokok tidak ikut naik.
• Diskomidag masih memantau dan koordinasi untuk pengendalian harga.
SUARA TRENGGALEK – Kenaikan harga mulai dirasakan pada sejumlah komoditas di Trenggalek dampak dari konflik global antara Amerika Serikat, Israel dan Iran.
Salah satunya adalah harga plastik kemasan yang kini mengalami kenaikan di pasaran. Dengan kondisi demikian, kini pemerintah daerah masih proses mendeteksi harga di pasaran.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskomidag) Trenggalek, Saniran membenarkan adanya tren kenaikan tersebut, meskipun belum merata di semua jenis plastik.
“Memang sesuai yang kita ketahui dari berita nasional, harga plastik mulai naik,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga plastik perlu diwaspadai karena berpotensi berdampak pada komoditas lain, terutama produk yang menggunakan kemasan plastik, seperti minyak goreng bersubsidi.
Ia menyebut, pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan telah mengantisipasi agar kenaikan harga plastik tidak berdampak pada harga kebutuhan pokok.
“Sudah ada instruksi dari Menteri Perdagangan bahwa meskipun plastik naik, jangan sampai Minyakita ikut naik,” jelasnya.
Dari pantauan dinas setempat, sementara ini kenaikan harga plastik kemasan bervariasi tergantung jenisnya.
Bahkan, di beberapa daerah kasus dilaporkan mengalami kenaikan hingga sekitar Rp 4.000, meski belum ada angka pasti secara keseluruhan di Trenggalek.
“Naiknya belum bisa dideteksi total, karena tidak semua jenis plastik sama. Masing-masing kelompok berbeda,” tambahnya.
Saniran menilai, kenaikan ini diduga dipicu oleh faktor global, terutama konflik geopolitik yang memengaruhi pasokan bahan baku plastik yang sebagian besar masih impor.
“Kelihatannya karena bahan baku plastik itu impor, dari bahan kimia, juga mungkin terpengaruh harga BBM,” terangnya.
Saniran menyebut kini pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memantau perkembangan serta mengantisipasi dampak lanjutan, khususnya terhadap stabilitas harga di pasar.











