SUARA TRENGGALEK – Konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berdampak pada dunia penerbangan internasional.
Sejumlah otoritas menutup rute udara strategis, termasuk jalur dari dan menuju Arab Saudi.
Akibat kondisi tersebut, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin atau Mas Ipin belum dapat kembali ke Indonesia sesuai jadwal kepulangan usai menunaikan ibadah umrah.
Mas Ipin menjalankan ibadah umrah bersama istri dan rombongan. Hingga kini, mereka masih menunggu kepastian jadwal penerbangan di Tanah Suci.
Wakil Bupati Trenggalek, Syah Muhammad Natanegara, mengonfirmasi bahwa penutupan wilayah udara di zona konflik membuat sejumlah maskapai menunda bahkan membatalkan jadwal penerbangan.
“Kita bisa melihat dari berbagai informasi, tidak ada pesawat yang berani melintasi wilayah konflik. Jadi sampai saat ini memang belum ada kepastian kapan beliau bisa kembali ke tanah air,” ujar Syah.
Ia menegaskan bahwa maskapai mengutamakan faktor keselamatan penumpang di tengah situasi yang belum kondusif. Syah juga mengajak masyarakat Trenggalek untuk mendoakan keselamatan Mas Ipin dan warga lain yang masih berada di Arab Saudi.
“Semoga situasi di Timur Tengah segera membaik dan semuanya bisa pulang dengan selamat,” tambahnya.
Sementara itu Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, membenarkan bahwa jadwal kepulangan bupati resmi mundur. Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Mas Ipin terkait perkembangan terkini.
“Tadi malam kami sempat berkomunikasi. Beliau menyampaikan belum bisa pulang karena pesawat memang belum tersedia akibat penutupan jalur udara,” jelas Doding.
Ia berharap otoritas penerbangan segera membuka kembali rute dari Arab Saudi setelah situasi dinyatakan aman. Menurutnya, faktor keamanan global di luar kendali pemerintah daerah menjadi penyebab keterlambatan tersebut.
Eskalasi militer di kawasan Timur Tengah membuat banyak maskapai internasional mengalihkan rute atau menghentikan operasional sementara guna menghindari risiko.
Kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada kepala daerah, tetapi juga memengaruhi ribuan jemaah umrah asal Indonesia yang masih tertahan di Arab Saudi.











