SUARA TRENGGALEK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mencatat hingga saat ini terdapat 16 unit Early Warning System (EWS) yang terpasang di sejumlah wilayah rawan bencana.
Namun, dari jumlah tersebut, hanya 8 unit yang berfungsi dengan baik. Adanya kendala tersebut, BPBD Trenggalek saat ini telah melaporkan 8 EWS lain yang mengalami kerusakan untuk dibenahi agar kembali berfungsi.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono menjelaskan bahwa EWS yang terpasang mencakup sistem peringatan dini untuk bencana banjir, tanah longsor atau tanah gerak, serta tsunami.
“Sampai saat ini ada 16 EWS yang terpasang di Kabupaten Trenggalek. Dari jumlah itu, baru delapan yang berfungsi dengan baik,” ujar Triadi, Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan, delapan EWS lainnya saat ini dalam kondisi tidak optimal dan telah dilaporkan kepada pihak terkait, termasuk pemerintah provinsi, untuk dilakukan pemeliharaan agar dapat kembali berfungsi seperti semula.
“Yang belum berfungsi sudah kami laporkan ke para pihak, termasuk ke provinsi, agar segera dilakukan perawatan,” jelasnya.
Triadi juga menerangkan, sistem EWS yang terpasang memiliki karakteristik berbeda-beda, tergantung jenis ancaman bencana di masing-masing wilayah.
Untuk EWS banjir, misalnya, sistem dilengkapi dengan sensor ketinggian air yang terhubung dengan sirine dan pemantauan melalui CCTV dari Dinas Komunikasi dan Informatika.
“Jika ketinggian air sudah mencapai ambang batas tertentu, sirine akan otomatis berbunyi dan memberikan peringatan kepada warga,” terangnya.
Sementara untuk EWS tanah longsor atau tanah gerak, mekanismenya relatif serupa, meski parameter pengukurannya menyesuaikan dengan standar dari masing-masing institusi terkait.
Di tengah kondisi cuaca ekstrem, saat ini BPBD Trenggalek juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi cuaca ekstrem masih berlangsung pada periode 21 hingga 30 Januari 2026.
“Sesuai informasi BMKG, angin kencang masih dimungkinkan terjadi dan berpotensi disertai hujan lebat, terutama pada malam hari,” kata Triadi.
BPBD bersama unsur pentahelix mengajak masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan.
Warga diimbau untuk menepi dan mencari tempat aman apabila berada di jalan saat angin kencang, serta menghindari area yang terdapat baliho atau papan reklame.
Sebagai upaya mitigasi, BPBD Trenggalek bersama pihak terkait juga terus melakukan pemangkasan ranting dan penebangan pohon kering yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan warga.
“Kami secara bertahap melakukan perampingan ranting dan pemotongan pohon kering atas permintaan dari desa-desa yang terdampak,” pungkasnya.











