PERISTIWA

Burung Gajahan Pengala Singgah di Pantai Cengkrong Trenggalek, Migrasi dari Rusia

×

Burung Gajahan Pengala Singgah di Pantai Cengkrong Trenggalek, Migrasi dari Rusia

Sebarkan artikel ini
Burung Trenggalek
Istimewa

SUARA TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek kedatangan tamu istimewa berupa burung migran asal belahan bumi utara, yakni Burung Gajahan Pengala (Numenius phaeopus).

Burung yang bermigrasi dari wilayah subartik ini terpantau singgah di kawasan hutan mangrove Pantai Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo.

Keberadaan burung migran tersebut teridentifikasi oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur saat melakukan kegiatan pemantauan burung migrasi di wilayah pesisir selatan Jawa Timur.

Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, Akhmad David Kurnia Putra, menjelaskan bahwa sejumlah daerah di Jawa Timur memang kerap menjadi lokasi persinggahan burung migran, seperti Kabupaten Tulungagung dan Kediri. Namun, jenis burung yang singgah di Trenggalek tergolong berbeda.

“Di Tulungagung dan Kediri kami menemukan burung Trinil yang singgah di area persawahan. Sementara di Trenggalek justru kami menemukan jenis yang berbeda, yakni Gajahan Pengala yang berada di kawasan mangrove Pantai Cengkrong,” ujar David, Jumat (23/1/2026).

Dalam pemantauan tersebut, David menemukan tiga individu Burung Gajahan Pengala di kawasan Pantai Cengkrong. Selain itu, di lokasi yang sama juga dijumpai Burung Trinil Pantai, yang jenisnya serupa dengan burung Trinil yang ditemukan di Tulungagung dan Kediri.

Menurut David, Gajahan Pengala maupun Trinil Pantai berasal dari wilayah Rusia dan sekitarnya. Burung-burung tersebut bermigrasi ke wilayah tropis, termasuk Indonesia, pada periode Oktober hingga Maret untuk bertahan hidup, sebelum kembali ke habitat asalnya untuk berkembang biak.

“Tujuan mereka ke Indonesia, termasuk Trenggalek, adalah untuk mencari makan. Saat musim dingin di daerah asal, sumber makanan sangat terbatas sehingga mereka berpindah ke wilayah tropis,” jelasnya.

Ia memastikan kehadiran burung migran tersebut tidak mengganggu ekosistem lokal. Hal itu karena jenis pakan Gajahan Pengala berbeda dengan burung-burung mangrove yang hidup menetap di kawasan Pantai Cengkrong.

“Gajahan Pengala memakan krustasea kecil dan cacing-cacing kecil, sementara burung lokal di Cengkrong tidak memakan jenis pakan tersebut,” terangnya.

Selama masa singgah, burung-burung migran akan mengumpulkan energi dengan cara makan sebanyak mungkin. Bahkan, berat tubuhnya bisa meningkat hingga dua kali lipat sebelum kembali ke daerah asal untuk berkembang biak.

Meski demikian, dalam beberapa kasus terdapat burung remaja yang tertinggal dan tinggal satu hingga dua periode migrasi sebelum akhirnya kembali.

David mengimbau masyarakat agar tidak menangkap burung migran yang singgah di wilayah Trenggalek. Menurutnya, burung migran tidak dapat dikembangbiakkan di daerah persinggahan karena proses berkembang biak hanya dilakukan di habitat asalnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik dengan membiarkan burung-burung tersebut hidup secara alami, serta cukup mendokumentasikan dan mencatat keberadaannya.

“Dengan membiarkan mereka menikmati alam dan sumber pakan di sini, kita turut berkontribusi menjaga kelestarian burung migran agar tidak punah di negara asalnya,” imbuh pria asal Tuban tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan BBKSDA, warga sekitar Pantai Cengkrong dinilai cukup ramah terhadap kehadiran burung migran.

Tidak ditemukan aktivitas perburuan, bahkan warga setempat memiliki sebutan khas untuk burung-burung tersebut. Yakni Trinil Pantai disebut sebagai ancul bumi kecil dan Gajahan Pengala dikenal sebagai ancul bumi besar.

“Warga justru senang dengan hadirnya burung-burung tersebut,” pungkas David.