ADVETORIAL

Bupati Trenggalek Petakan Jalur Rawan Selama Lebaran, Penanganan Jalan Darurat Dipercepat

×

Bupati Trenggalek Petakan Jalur Rawan Selama Lebaran, Penanganan Jalan Darurat Dipercepat

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat melakukan peninjauan perbaikan jalan.

SUARA TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi arus mudik dan balik lebaran 2026.

Selain pemetaan pada titik rawan, Pemkab juga melakukan percepatan penanganan darurat dalam pelaksanaan perbaikan infrastruktur jalan.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin menyampaikan ada beberapa titik rawan yang perlu mendapat perhatian khusus, termasuk jalur wisata dan kawasan yang sempat terdampak longsor.

Menurut Mas Ipin, sejumlah wilayah yang perlu diwaspadai berada di jalur Tulungagung menuju Trenggalek, khususnya di kawasan Durenan, jalur menuju Watulimo yang merupakan daerah wisata, serta jalur penghubung menuju Ponorogo.

“Beberapa titik rawan tentu ada di sekitar Durenan, kemudian ke arah Watulimo karena itu merupakan kawasan wisata, serta jalur menuju Ponorogo,” ujar Mas Ipin, Kamis (12/3/2026).

Ia juga meminta dilakukan asesmen cepat di lokasi yang sebelumnya terdampak longsor untuk menentukan langkah-langkah pengamanan yang perlu dilakukan.

Salah satu usulan yang disampaikannya adalah agar rest area di Bendungan Tugu sementara tidak dibuka untuk wisata selama periode arus mudik dan balik Lebaran.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko jika terjadi longsor atau kepadatan kendaraan di kawasan tersebut.

“Kalau terjadi penumpukan kendaraan lalu ada longsor, kita tidak punya ruang untuk evakuasi atau manuver kendaraan. Karena itu kami mengusulkan rest area Bendungan Tugu dikosongkan dulu,” jelasnya.

Selain itu, ia juga memberikan kewenangan kepada Satuan Lalu Lintas Polres Trenggalek untuk berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dalam melakukan penanganan darurat terhadap jalan yang rusak.

Menurutnya, sejumlah perbaikan sementara dapat dilakukan dengan metode tambal jalan guna mengurangi risiko kecelakaan bagi pengguna jalan.

“Beberapa titik yang membahayakan bisa dilakukan kegiatan darurat seperti penambalan jalan untuk mengurangi risiko,” katanya.

Mas Ipin juga meminta dukungan dari pihak kontraktor yang sedang mengerjakan proyek Sekolah Rakyat di kawasan kota Trenggalek untuk membantu memperbaiki kerusakan infrastruktur di sekitar lokasi proyek.

Ia mengakui perbaikan dengan tambalan aspal memiliki keterbatasan, terutama jika dilalui kendaraan bermuatan berat.

“Tambalan aspal itu biasanya hanya kuat untuk beban sekitar empat ton. Kalau kendaraan besar berhenti di atasnya tentu bisa rusak lagi,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti proyek peningkatan jalan di jalur Ngetal menuju Gandusari yang saat ini masih dalam proses pengerjaan dan menimbulkan debu akibat penambahan material agregat.

Ia meminta kontraktor setidaknya melapisi jalan dengan satu lapis aspal (one coat) sebelum Lebaran agar tidak menimbulkan debu yang mengganggu pengguna jalan.

“Kalau belum bisa overlay dua lapis, minimal diberi satu lapis aspal hitam supaya saat Lebaran tidak ada debu,” jelasnya.

Dirinya juga mengingatkan agar pelapisan aspal dilakukan pada kedua sisi jalan secara bersamaan agar tidak menimbulkan perbedaan ketinggian yang berpotensi membahayakan pengendara.

Ia mengakui sejumlah proyek infrastruktur jalan di Trenggalek memang belum bisa diselesaikan sepenuhnya sebelum Lebaran. Proyek jalan di Ngetal misalnya diperkirakan baru rampung pada Mei, sementara beberapa ruas lainnya dijadwalkan selesai pada Agustus mendatang.

Meski demikian, pemerintah daerah memastikan penanganan darurat tetap dilakukan agar arus lalu lintas selama Lebaran dapat berjalan lebih aman dan lancar.

“Mungkin tidak semua pekerjaan selesai sebelum Lebaran. Kami mohon maaf kepada masyarakat, tetapi penanganan darurat tetap kami lakukan,” pungkasnya.