Inti Berita:
• Dua dapur MBG di Trenggalek disuspend oleh BGN.
• Dapur yang disanksi: SPPG Ar Rahman dan Al Mursyid.
• Keluhan meliputi makanan berbau hingga tidak dimakan siswa.
• Pengawasan dilakukan berlapis, termasuk melibatkan masyarakat.
• Pemkab lakukan pembinaan agar dapur bisa kembali beroperasi.
SUARA TRENGGALEK – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menjatuhkan sanksi suspend atau penghentian sementara terhadap dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Trenggalek.
Kebijakan itu diambil setelah muncul sejumlah keluhan terkait kualitas makanan yang diberikan oleh dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut kepada siswa penerima.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto menyebut dua dapur yang disanksi tersebut yakni SPPG Yayasan Ar Rahman di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, dan SPPG Yayasan Al Mursyid di Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan.
“Ada dua yang disuspend, yaitu SPPG Yayasan Ar Rahman Tasikmadu Watulimo dan SPPG Yayasan Al Mursyid Desa Ngetal Pogalan,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Sunarto juga menjelaskan, sistem pengawasan program MBG dilakukan secara berlapis, termasuk melibatkan masyarakat. Jika ditemukan penyimpangan, laporan akan diteruskan ke BGN untuk ditindaklanjuti.
“Pengawasan dilakukan bertingkat termasuk oleh masyarakat. Penyimpangan dalam pengelolaan MBG dilaporkan ke BGN. Setelah diberikan peringatan, jika diabaikan maka diberikan sanksi,” jelasnya.
Berdasarkan catatan, keluhan terhadap dua dapur tersebut sebelumnya memang sempat mencuat.
Di SPPG Al Mursyid Ngetal, siswa dari jenjang TK hingga MI dilaporkan menerima menu pentol balado yang mengeluarkan bau tidak sedap pada 9 Maret 2026.
Sementara di SPPG Ar Rahman Tasikmadu, keluhan datang dari orang tua siswa. Salah satu wali murid berinisial RMD mengaku anaknya tidak mengonsumsi makanan yang dibawa pulang.
“Anak saya mendapatkan MBG, tapi sampai di rumah tidak dimakan karena tidak suka dengan menu yang disajikan,” ungkapnya.
Meski dua dapur disuspend, Satgas MBG memastikan layanan kepada siswa tetap diupayakan berjalan agar tidak mengganggu sasaran program.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga telah melakukan pembinaan agar dapur tersebut dapat kembali beroperasi.
“Satgas bersama instansi terkait telah melakukan upaya agar tidak berdampak pada sasaran, pembinaan berkala serta mendorong agar bisa operasional kembali dengan mematuhi aturan,” imbuh Sunarto.
Kasus ini menjadi perhatian dalam pelaksanaan program MBG di Trenggalek, khususnya dalam menjaga kualitas makanan yang langsung dikonsumsi oleh siswa.











