PERISTIWA

Berusia 3 Tahun, Server Kominfo Trenggalek Masih Mampu Menopang Layanan Informasi

×

Berusia 3 Tahun, Server Kominfo Trenggalek Masih Mampu Menopang Layanan Informasi

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kepala Bidang Aptika Dinas Kominfo Trenggalek.

SUARA TRENGGALEK – Server milik Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Trenggalek tercatat sudah berusia cukup lama dan terakhir diperbarui pada sekitar tahun 2022.

Meski demikian, Diskominfo memastikan server tersebut masih mampu menopang kebutuhan layanan sistem informasi pemerintah daerah melalui perawatan rutin setiap tahun.

Kepala Bidang Aplikasi Informatika Diskominfo Trenggalek, Iwan Kukuh Ariffianto menjelaskan bahwa Pemkab Trenggalek sebenarnya telah memiliki pusat data sendiri sebelum adanya Pusat Data Nasional (PDN).

“Server Kominfo itu sudah agak lama. Dulu kami sudah memiliki pusat data sendiri sebelum PDN ada,” ujar Iwan, Senin (5/1/2026).

Sejak pemerintah pusat menetapkan kebijakan pemanfaatan PDN, pemerintah daerah dilarang melakukan pengadaan server baru. Seluruh data diharapkan tersimpan dan terintegrasi di PDN.

Kondisi tersebut membuat Pemkab Trenggalek hanya bisa mengandalkan server lama yang telah dimiliki.

“Sejak ada PDN, Pemda dilarang pengadaan server lagi. Jadi kualitas server yang kami miliki memang sudah agak lama, terakhir pengadaan sekitar 2022,” jelasnya.

Meski demikian, Diskominfo secara rutin melakukan pemeliharaan server setiap tahun guna menjaga sistem informasi pemerintah tetap berjalan dan dapat diakses masyarakat.

Diskominfo juga memfasilitasi seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) agar menempatkan sistem informasinya di server tersebut.

“Kami lakukan pemeliharaan rutin supaya sistem informasi pemerintah tetap bisa diakses dan OPD juga kami fasilitasi agar sistemnya ditaruh di sini,” kata Iwan.

Ia mencontohkan, server tersebut juga diuji secara maksimal saat pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring yang memiliki lonjakan akses tinggi.

“SPMB online itu betul-betul kami uji servernya, karena aksesnya sangat banyak. Itu kami pastikan supaya tidak terjadi down saat akses puncak,” terangnya.

Sepanjang tahun ini, Iwan menyebut gangguan sistem hanya terjadi pada layanan CCTV. Gangguan tersebut terjadi saat terjadi lonjakan akses yang sangat tinggi, seperti ketika masyarakat mengakses informasi terkait aksi demonstrasi.

“Yang down seingat saya CCTV. Itu pun tidak lama, karena aksesnya sangat banyak. Begitu terjadi down langsung kami atasi,” ujarnya.

Menurut Iwan, penyimpanan sistem informasi secara lokal justru memudahkan penanganan ketika terjadi gangguan.

“Kami lebih banyak menyimpan sistem informasi di sini supaya kalau ada permasalahan bisa langsung ditangani, 24 jam bisa langsung nahan,” pungkasnya.