SUARA TRENGGALEK – Rencana regrouping atau penggabungan sekolah di Kabupaten Trenggalek masih menjadi bahan pertimbangan Dinas Pendidikan setempat. Wacana ini muncul setelah banyak sekolah kekurangan siswa baru pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025.
Beberapa sekolah negeri dilaporkan hanya menerima 1 hingga 5 siswa, bahkan ada yang tidak mendapat siswa sama sekali. Kepala Dinas Pendidikan Trenggalek, Agoes Setiono, menyebut fenomena ini dipengaruhi berbagai faktor, termasuk penurunan jumlah lulusan TK dan SD yang melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.
“Jumlah calon siswa memang menurun. Selain itu, sekolah negeri dan swasta tersebar sangat banyak, sehingga pilihan siswa lebih beragam,” ujar Agoes, Selasa (12/8/2025)
Ia menambahkan, lokasi sekolah tidak selalu menjadi penentu pilihan orang tua. Infrastruktur jalan yang baik serta ketersediaan transportasi pribadi membuat sebagian orang tua memilih sekolah yang jaraknya lebih jauh dari rumah.
Terkait opsi regrouping, Agoes menegaskan keputusan akan mempertimbangkan jarak tempuh siswa. “Kami khawatir kalau ada merger malah membuat sekolah jauh dari tempat tinggal, yang justru mengurangi semangat belajar. Tapi penggabungan tetap menjadi bahan pertimbangan,” jelasnya.
Untuk saat ini, Agoes menerangkan masih memaksimalkan sekolah yang ada sambil memantau perkembangan. “Regrouping bukan harga mati, ini hanya salah satu alternatif kebijakan,” pungkas Agoes.