PERISTIWA

Gembleng 20 Pemuda Trenggalek, Dispora Gelar Pelatihan Ciptakan Lahirnya Wirausaha Muda

×

Gembleng 20 Pemuda Trenggalek, Dispora Gelar Pelatihan Ciptakan Lahirnya Wirausaha Muda

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pelatihan kuliner wirausaha muda yang digelar oleh Dispora Trenggalek.
Inti Berita:
• Dispora Trenggalek menggelar pelatihan tata boga bagi 20 pemuda berusia 16–30 tahun di LKP Sanita, Desa Bendo, Kecamatan Pogalan, selama tiga hari (19–21 Oktober 2026).
​• Program pelatihan berbasis dana APBD 2026 ini berfokus pada teknik pengolahan makanan ringan (snack) guna merangsang kreativitas serta kemandirian ekonomi Karang Taruna dan pelaku UMKM lokal.

SUARA TRENGGALEK – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Trenggalek menggelar pelatihan tata boga bagi 20 pemuda untuk meningkatkan keterampilan sekaligus mendorong tumbuhnya wirausaha muda.

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, 19–21 Oktober 2026, tersebut dipusatkan di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Sanita, Desa Bendo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek.

Peserta berusia 16 hingga 30 tahun dibekali materi dasar boga dan teknik pengolahan makanan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispora Trenggalek, Arief Setiawan, mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya di kalangan pemuda.

“Intinya kami itu ada bidang kepemudaan. Selain bidang olahraga yang kami galakkan melalui berbagai kegiatan, kami tetap ingin memajukan anak-anak muda di Kabupaten Trenggalek,” ungkap Arief, Senin (19/10/2026).

Menurutnya, pengembangan pemuda tidak hanya dilakukan melalui kegiatan olahraga dan kompetisi.

Dispora juga berupaya mendorong kreativitas serta kemandirian ekonomi generasi muda melalui pelatihan keterampilan yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha produktif.

Arief menilai antusiasme peserta, termasuk dari kalangan Karang Taruna, menjadi modal penting untuk mendukung keberhasilan program tersebut.

Ia berharap pelatihan tidak berhenti pada pemberian materi selama tiga hari. Peserta diharapkan mendapat kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan terlibat dalam berbagai kegiatan di Kabupaten Trenggalek.

“Kami ingin tidak hanya sekadar pelatihan. Nantinya, ketika ada kegiatan atau acara di Panggungsari maupun di tempat-tempat lain, ada teman-teman yang bisa kami bina dan proyeksikan untuk terlibat dalam kegiatan tersebut,” jelasnya.

Dengan keterlibatan itu, peserta diharapkan dapat mempraktikkan keterampilan yang diperoleh, sekaligus membuka peluang usaha dan menambah penghasilan.

Targetkan Lahir 10 Wirausaha Muda

Arief mengungkapkan, pelatihan tata boga tersebut merupakan pelatihan pertama yang diselenggarakan Dispora Trenggalek.

Meski demikian, pihaknya telah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan pemuda melalui pemerintah desa maupun komunitas.

Ke depan, Dispora menargetkan dapat melahirkan sedikitnya 10 pemuda berjiwa wirausaha melalui kolaborasi dengan sejumlah perangkat daerah terkait.

“Nanti kami punya gambaran program ke depan untuk bisa menelurkan minimal 10 orang pemuda di Kabupaten Trenggalek melalui Dinas Pemuda dan Olahraga serta kolaborasi dengan dinas-dinas terkait,” katanya.

Ia berharap para peserta mampu mengembangkan kreativitas menjadi produk yang memiliki nilai jual sehingga dapat meningkatkan perekonomian, terutama melalui usaha yang dirintis generasi muda.

“Kabupaten Trenggalek tidak main-main dalam memajukan SDM para pemuda. Semoga pada tahun-tahun berikutnya, kita bisa membanggakan Kabupaten Trenggalek melalui anak-anak muda yang kreatif dan berdaya saing tinggi,” tuturnya.

Pelatihan tersebut didanai melalui APBD Kabupaten Trenggalek Tahun Anggaran 2026 dalam program pengembangan kapasitas pemuda, pemberdayaan pemuda pelopor, dan wirausaha muda.

Pemuda Didorong Kembangkan Usaha

Kepala Desa Panggungsari, Heru Sugiono, menjelaskan bahwa pelatihan tata boga berawal dari gagasan untuk meningkatkan kemampuan pemuda agar mampu menciptakan lapangan usaha sendiri.

Menurutnya, keterampilan mengolah makanan, khususnya makanan ringan atau snack, memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Gagasan tersebut muncul karena sejumlah pelaku UMKM di wilayahnya telah berhasil menjalankan usaha di bidang makanan ringan.

“Sehingga kelak bisa menjadi usaha banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang tersebut,” paparnya.

Heru menyebut sebagian peserta sebenarnya telah menjalankan usaha UMKM. Namun, beberapa di antaranya masih mengandalkan keterampilan yang diperoleh secara otodidak.

Karena itu, ia berharap pelatihan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan peserta untuk meningkatkan kualitas produk serta mengembangkan usaha yang telah dirintis.

Ia juga mengapresiasi Dispora Trenggalek yang telah merealisasikan usulan pelatihan tersebut.

“Alhamdulillah, usulan kami diterima dan benar-benar terlaksana. Harapannya, anak-anak kami yang sudah memiliki usaha bisa mengembangkan usahanya,” ujarnya.

Heru berharap pelatihan tersebut memberikan manfaat nyata bagi peserta, mulai dari peningkatan kemampuan mengolah makanan hingga terbukanya peluang ekonomi yang lebih baik.