PENDIDIKAN

Jam Belajar SD dan SMP di Trenggalek Dikurangi Selama Ramadan, Sekolah Dilarang Beri PR Berlebih

×

Jam Belajar SD dan SMP di Trenggalek Dikurangi Selama Ramadan, Sekolah Dilarang Beri PR Berlebih

Sebarkan artikel ini
Pendidikan Trenggalek
Kepala Dinas Pendidikan Trenggalek, Agoes Setiyono saat menyampaikan penyesuaian jam belajar disekolah.

SUARA TRENGGALEK – Kegiatan belajar mengajar (KBM) di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Trenggalek mengalami penyesuaian selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi.

Penyesuaian tersebut mencakup pengurangan durasi jam pelajaran tanpa mengubah jam masuk sekolah. Serta mengurangi pemberian pekerjaan rumah (PR) atau tugas bagi siswa-siswa.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Trenggalek, Agoes Setiyono mengatakan kebijakan itu mengacu pada Surat Keputusan (SK) Tiga Menteri.

Keputusan tersebut tentang pembelajaran selama Ramadan serta Surat Edaran Bupati terkait peningkatan ketakwaan dan pengaturan jam kerja selama bulan puasa.

“Untuk sekolah, setiap jam mata pelajaran baik di SMP maupun SD dikurangi 10 menit,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Agoes menjelaskan, durasi satu jam pelajaran di SMP yang sebelumnya 40 menit menjadi 30 menit. Sementara di SD, dari 35 menit menjadi 25 menit.

Adapun untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), penyesuaian dilakukan mengikuti ketentuan masing-masing satuan pendidikan.

Meski durasi pembelajaran dikurangi, jam masuk sekolah tetap dimulai pukul 07.00 WIB seperti biasa.

Selain pengurangan jam pelajaran, Dinas Pendidikan juga menginstruksikan agar aktivitas fisik, khususnya pada mata pelajaran olahraga, disesuaikan dengan kondisi siswa yang menjalankan ibadah puasa.

“Kegiatan pembelajaran diupayakan menyenangkan dan tidak terlalu membebani secara fisik,” jelasnya.

Pembelajaran mandiri di rumah pun diarahkan agar tidak memberatkan siswa. Sekolah diimbau untuk tidak memberikan pekerjaan rumah (PR) atau tugas yang berlebihan selama ramadan.

Lebih lanjut, Agoes menegaskan bahwa ramadan menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa-siswi.

Setiap sekolah didorong mengisi kegiatan dengan aktivitas keagamaan seperti kajian, pembacaan Al-Qur’an, serta salat berjamaah.

“Bulan ramadan ini hanya satu kali dalam setahun, sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ibadah dan karakter siswa,” katanya.

Sementara itu, bagi siswa non-Muslim, menurut Agoes kegiatan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mereka tetap mendapatkan pembinaan karakter dan pembelajaran sesuai keyakinan masing-masing tanpa perbedaan perlakuan.

Agoes berharap, melalui penyesuaian ini, proses pembelajaran tetap berjalan optimal sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk meningkatkan nilai-nilai spiritual selama bulan suci ramadan.