SUARA TRENGGALEK – Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Trenggalek menyampaikan jika belum mendapat laporan soal dugaan menu makan bergizi gratis (MBG) yang diduga berbau dan tidak layak konsumsi.
Meski demikian pihaknya menegaskan akan melakukan evaluasi terkait dugaan makanan basi yang didistribusikan oleh SPPG Ngantru 3, setelah adanya pengembalian 400 porsi MBG oleh Sekolah Dasar (SD) Inovatif Trenggalek.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Saeroni, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi dari SPPG Ngantru 3 terkait kejadian tersebut.
Namun demikian, Satgas berkomitmen untuk segera menindaklanjuti informasi yang beredar dengan meminta klarifikasi dan laporan dari penyedia makanan.
“Untuk informasi makanan berbau atau basi dari SPPG 3 Ngantru, sampai saat ini kami belum menerima laporan. Nanti akan kami evaluasi dan kami minta laporan dari SPPG tersebut untuk disampaikan ke Satgas,” ujar Saeroni, Jumat (6/2/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengusulkan sanksi terhadap pelaksana MBG, mulai dari penghentian sementara hingga penghentian tetap, sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
“Di pemerintah daerah kewenangannya adalah mengusulkan, mulai dari penghentian sementara sampai penghentian tetap. Penghentian sementara bisa satu minggu, kemudian dua minggu, dan jika sampai tahap ketiga bisa dihentikan,” jelasnya.
Namun demikian, Saeroni menegaskan bahwa ketetapan akhir terkait sanksi berada di bawah kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN), bukan pemerintah daerah.
“Ketetapan itu dari BGN, bukan dari pemerintah daerah,” tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, SD Inovatif Trenggalek mengembalikan sekitar 400 paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh SPPG Ngantru 3 pada Kamis (5/2/2026).
Pengembalian dilakukan setelah pihak sekolah mendapati menu ayam berbumbu yang diduga tidak layak konsumsi dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Pada hari tersebut, menu MBG yang diterima terdiri dari ayam rica-rica, sayur, tempe keripik, serta buah salak. Namun, saat ompreng dibuka, bau tidak sedap langsung tercium.
“Ketika ompreng dibuka, baunya langsung menyebar dan tidak sedap. Awalnya kami mengira karena bumbunya atau tercampur bau buah salak, tetapi setelah dicium satu per satu oleh beberapa guru, baunya memang sudah tidak layak,” ungkap salah satu guru SD Inovatif.
Atas pertimbangan keamanan dan kesehatan siswa oleh pihak sekolah, seluruh paket MBG tersebut akhirnya dikembalikan dan tidak dibagikan kepada para siswa.











