SUARA TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek mulai menjajaki kolaborasi dengan sejumlah investor untuk pengembangan sektor pariwisata pada tahun 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, Edi Santoso, mengungkapkan bahwa minat investor sebenarnya telah muncul sejak 2025 dan kini mulai diarahkan ke tahap penjajakan kerja sama.
Menurut Edi, karakter investor yang berminat cukup beragam, baik yang menanamkan modal secara langsung maupun yang berfokus pada tata kelola dan pengelolaan destinasi sebagai operator.
“Beberapa investor sudah mencoba berkolaborasi. Ada yang invest di modal, ada juga yang invest di tata kelola atau pengelolaannya. Tipe investor ini macam-macam, nanti kami seleksi mana yang paling kompatibel untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah,” ujar Edi.
Ia juga menyebutkan, minat investor menyasar sejumlah destinasi strategis di Trenggalek, mulai dari kawasan pantai, hotel, hingga Goa Lowo.
Namun demikian, seluruh rencana investasi tetap harus melalui mekanisme dan tahapan sesuai ketentuan pemerintahan.
“Pantai ada yang berminat, hotel juga ada, Goa Lowo juga ada. Tapi semuanya tetap melalui mekanisme yang sudah ada,” tegasnya.
Rencana Poles Destinasi Wisata Trenggalek
Selain membuka peluang investasi, Disparbud Trenggalek juga menetapkan sejumlah prioritas pengembangan pariwisata pada 2026 sesuai arahan Bupati Trenggalek.
Fokus kebijakan tidak hanya pada destinasi yang sudah ramai pengunjung, tetapi juga pada lokasi wisata yang beberapa tahun terakhir mengalami penurunan kunjungan.
“Yang sudah ramai tetap harus dipoles, sarana dan prasarananya diperbaiki. Sementara yang pengunjungnya menurun juga harus kita intervensi agar kembali normal seperti masa jayanya dulu,” jelas Edi.
Beberapa destinasi yang menjadi perhatian antara lain Goa Lowo, Hotel Prigi, dan kawasan wisata Pantai Prigi 360.
Fokus Pengembangan Fasilitas Wisata
Untuk Goa Lowo, pengembangan diarahkan pada konsep wisata luar ruang (outdoor) serta penguatan daya tarik dalam ruangan (indoor), seperti penataan pencahayaan.
Menurut Edi, secara komparatif Goa Lowo memiliki keunggulan yang kuat dibanding destinasi sejenis di daerah lain.
“Aksesnya dekat, infrastrukturnya bagus, satu jalur dengan Pantai Prigi. Keunggulan komparatif kita kuat, tinggal keunggulan kompetitifnya yang harus terus kita dorong,” katanya.
Sementara itu, Hotel Prigi akan difokuskan pada pembaruan fasilitas dan tampilan. Tingkat hunian hotel di kawasan sekitar yang masih tinggi dinilai menjadi peluang besar untuk menghidupkan kembali hotel milik daerah tersebut.
Untuk Pantai Karanggongso, pengembangan diarahkan pada pembenahan infrastruktur dasar, seperti saluran air, penataan parkir, serta perbaikan kios pedagang.
Prigi 360 Juga Menjadi Fokus
Adapun Pantai Prigi 360 akan difokuskan pada penyediaan area bermain anak di daratan, mengingat kondisi ombak laut yang relatif tinggi dan kurang aman untuk aktivitas bermain air.
“Kalau area bermain anak tersedia, otomatis anak-anak datang dan orang tuanya ikut. Ini bisa membuat Prigi 360 lebih ramai lagi,” ujarnya.
Kawasan Terpadu dan Sinergi Antar-OPD
Di kawasan kota, Disparbud Trenggalek juga terlibat dalam pengembangan kawasan terpadu Huko yang akan dilengkapi jogging track sepanjang sekitar 7,7 kilometer.
Disparbud mendapat porsi pengelolaan pada area teras Huko, sementara segmen lainnya ditangani oleh perangkat daerah terkait.
Sementara untuk kawasan Dilem Wilis, Edi menjelaskan bahwa pengelolaan utama berada di bawah Dinas Pertanian. Namun, pada 2026 kawasan tersebut juga masuk dalam prioritas pengembangan lintas sektor.
“Intinya, 2026 ini kami fokus pada penguatan fasilitas, pembenahan destinasi, dan kolaborasi antar-OPD agar pariwisata Trenggalek bisa kembali bergairah,” pungkasnya.











