SUARA TRENGGALEK – Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata Kabupaten Trenggalek pada tahun 2025 tidak tercapai.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek mencatat realisasi PAD dari destinasi wisata yang dikelola pemerintah daerah masih berada di bawah target yang telah ditetapkan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disparbud Trenggalek, Edi Santoso, menyebut dari target PAD sektor pariwisata sebesar Rp9,32 miliar pada 2025, realisasi yang tercapai hanya Rp6,55 miliar atau sekitar 70,3 persen.
“PAD dari sektor pariwisata di Kabupaten Trenggalek khususnya di destinasi yang dikelola oleh Dinas Pariwisata memang tidak mencapai target, dari target 9,32 miliar ini tercapai 6,55 miliar, atau 70,3 persen,” ujar Edi.
Ia mengakui capaian tersebut juga mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Trenggalek tetap memasang target PAD pariwisata yang lebih tinggi pada tahun 2026.
“Kemudian kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya sedikit menurun. Namun demikian di tahun 2026 target untuk PAD masih tetap ditingkatkan dengan harapan ada perubahan iklim pariwisata yang itu nanti bisa mendorong PAD bisa meningkat,” jelasnya.
Penurunan PAD pariwisata tersebut sejalan dengan turunnya jumlah kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2025. Disparbud Trenggalek mencatat total pergerakan wisatawan pada 2025 mencapai 955.729 orang.
Jumlah tersebut terdiri atas 900.437 kunjungan ke destinasi wisata dan 55.292 tamu hotel. Angka ini menurun signifikan dibandingkan tahun 2024, di mana total pergerakan wisatawan ke Trenggalek tercatat lebih dari 1,54 juta orang.
Menurut Edi, salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan kunjungan wisatawan sekaligus PAD pariwisata adalah kondisi cuaca yang tidak menentu sepanjang 2025.
“Penyebab tidak tercapai ada beberapa hal, 2025 ini kami amati bersama ada iklim cuaca serba tidak menentu, berapa kali kami dapat himbauan informasi dari BMKG tentang cuaca ekstrem yang itu diketahui oleh masyarakat,” jelasnya.
Edi menambahkan dari informasi kondisi iklim tersebut sehingga masyarakat yang punya jadwal untuk berangkat berwisata ke Trenggalek tertunda dan tidak jadi berangkat.
Ia menambahkan, dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan Trenggalek, tetapi juga terjadi di sejumlah daerah lain, khususnya destinasi wisata di kawasan selatan.
“Dan ini juga dirasakan sama oleh ke luar daerah, baik tetangga destinasi di wilayah selatan Trenggalek, sama tren ada menurun. Jadi andalan di Trenggalek Pantai Pasir Putih dan Simbaronce,” kata Edi.











