PERISTIWA

59 SPPG di Trenggalek Sudah Beroperasi Layani MBG, Ada 16 Dapur Kantongi Sertifikasi SLHS

×

59 SPPG di Trenggalek Sudah Beroperasi Layani MBG, Ada 16 Dapur Kantongi Sertifikasi SLHS

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Saeroni saat menyampaikan perkembangan operasional dapur MBG.

SUARA TRENGGALEK – Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Trenggalek terus mengalami perkembangan signifikan.

Hingga saat ini tercatat sebanyak 59 SPPG yang telah beroperasi untuk melayani program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Saeroni menjelaskan bahwa secara keseluruhan terdapat 64 SPPG yang terdaftar di sistem Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, belum semuanya beroperasi.

“Untuk Trenggalek, SPPG yang sudah operasional itu ada 59. Dari total 64 yang terdata di website BGN, sisanya kemungkinan masih menunggu peluncuran atau belum mulai operasional,” jelas Saeroni, Jumat (6/3/2026).

Selain perkembangan jumlah operasional, proses perizinan dapur MBG di Trenggalek juga menunjukkan peningkatan.

Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang menjadi salah satu syarat penting bagi operasional dapur MBG juga mengalami penambahan.

“Untuk perizinan SLHS sudah ada kenaikan, dari sebelumnya 13 sekarang menjadi 16 yang sudah memiliki sertifikat SLHS,” tambahnya.

Terkait pelaksanaan program selama ramadan, Saeroni mengakui bahwa sejumlah masukan dari masyarakat tetap ada.

Namun keluhan tersebut disampaikan langsung oleh penerima manfaat melalui kanal komunikasi yang tersedia di masing-masing SPPG.

Menurutnya, setiap penerima manfaat memiliki akses untuk memberikan kritik maupun saran secara langsung kepada pengelola SPPG di sekolah masing-masing.

“Keluhan dari masyarakat memang ada, tetapi penerima manfaat biasanya menyampaikan langsung kepada SPPG yang melayani di sekolah tersebut. Harapannya dengan adanya masukan itu, bisa segera dilakukan perbaikan pelayanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, mekanisme penyampaian keluhan secara langsung tersebut diharapkan mampu mempercepat respons perbaikan sehingga kualitas layanan program MBG di Trenggalek terus meningkat.

“Dengan adanya kritik dan saran dari penerima manfaat, pelayanan ke depan diharapkan semakin baik,” pungkasnya.