SUARA TRENGGALEK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak ekonomi di sejumlah daerah, khususnya di Trenggalek.
Selain bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, program ini juga memicu aktivitas ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Di Kabupaten Trenggalek, puluhan UMKM telah mulai bermitra dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur penyedia MBG untuk memasok berbagai kebutuhan makanan.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskomidag) Kabupaten Trenggalek, Saniran mengatakan pihaknya terus mendorong kolaborasi antara UMKM dengan dapur MBG.
“UMKM yang bekerja sama dengan dapur MBG terus kita pantau dan kita dorong untuk terus bergandeng. Setelah kemarin kita lakukan business matching, mereka bisa melanjutkan komunikasi secara langsung,” ujar Saniran, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah juga telah memfasilitasi pertemuan antara pelaku UMKM dan pengelola dapur SPPG melalui business matching dengan memberikan data serta kontak masing-masing pihak agar kerja sama dapat berjalan lebih mudah.
Hingga saat ini, sekitar 27 pelaku UMKM di Trenggalek telah terhubung dengan dapur MBG.
Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena ada beberapa pelaku usaha yang menjalin kerja sama secara mandiri di luar data pemerintah.
“Totalnya sampai kemarin sekitar 27 pelaku UMKM yang bisa terkoneksi. Sebetulnya ada juga yang di luar itu yang melakukan kerja sama sendiri,” jelasnya.
Saniran menuturkan jenis UMKM yang terlibat cukup beragam, mulai dari penyedia makanan, minuman, sayuran, buah-buahan, hingga usaha konveksi.
“Rata-rata dari sektor makanan dan minuman, ada juga yang menyediakan sayur, buah, telur, bahkan konveksi untuk kebutuhan pakaian pekerja dapur SPPG,” katanya.
Untuk produk makanan, sebagian besar UMKM memasok makanan kering seperti roti yang biasanya digunakan sebagai menu tambahan dalam program MBG.
Namun, Saniran menegaskan keterlibatan UMKM tidak terbatas pada hari tertentu saja.
“Kalau roti memang biasanya digunakan pada hari tertentu, tetapi ada juga yang menyuplai telur, sayur, dan buah. Jadi tidak hanya satu jenis saja,” ujarnya.
Meski demikian, Saniran menegaskan pihaknya tidak terlibat langsung dalam pengelolaan program MBG.
Peran Diskomidag lebih difokuskan pada pembinaan dan penguatan UMKM agar dapat terhubung dengan rantai pasok program tersebut.
“Kami tidak terlibat langsung dalam program MBG karena sudah ada satgasnya sendiri. Peran kami lebih ke pembinaan UMKM dan menjembatani agar mereka bisa terkoneksi dengan dapur SPPG,” jelasnya.
Ia berharap pengelola dapur MBG dapat memprioritaskan produk lokal dari pelaku UMKM di Trenggalek sehingga manfaat ekonomi program tersebut semakin terasa bagi masyarakat.
“Kami mendorong agar dapur MBG mengambil barang dari rantai pasok UMKM lokal. Dengan begitu perputaran ekonomi di daerah juga bisa meningkat,” pungkasnya.











